Kasus Sirkuit Segera Disidangkan

114

Kajari Baru Siap Kawal

SLAWI – Kasus dugaan penyalahgunaan anggaran proyek sirkuit road race di Waduk Cacaban, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Tegal akan segera memasuki masa persidangan di Pengadilan Tipikor Semarang. Namun tiga tersangka kasus tersebut yang hingga kini masih dititipkan di Lapas Tegalandong, Slawi, bakal mendekam di tahanan lebih lama. Sebab, Kejaksaan Negeri Slawi memperpanjang penahanan hingga 30 hari, sebelum pelimpahan ke Pengadilan Tipikor Semarang untuk menjalani persidangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memberi waktu yang cukup bagi jaksa penuntut umum (JPU) untuk menyiapkan dakwaan yang cermat, akurat, dan lengkap. Hal itu dilontarkan mantan Kajari Slawi Azwar SH di sela-sela acara pisah sambut dengan penggantinya, Hj Unaisi Hety Nining SH, Jumat (20/6).
Azwar yang akan menduduki jabatan baru sebagai Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati DIY menegaskan masih ada dua tersangka yang kini sedang disiapkan dakwaannya dan sudah memasuki pra penuntutan. ”Kedua tersangka itu adalah pemborong dan panitia pemeriksa pekerjaan (P3). Sampai saat ini penahanan belum diperlukan dan akan segera dilakukan bila dakwaannya sudah rampung,” tuturnya.
Sementara itu, Kajari Slawi Hj Unaisi Hetty Nining SH juga berkomiten untuk merampungkan semua perkara tipikor yang ada di Kabupaten Tegal. Hal itu agar bisa secepatnya naik dipersidangan. Mantan Kajari Kabupaten Sowawa Provinsi Gorontalo itu yakin, di bawah kendalinya itu tak ada kasus pidana tipikor yang lolos dari jeratan hukum. ”Ditangan kajari wanita, semua kasus tipikor pasti naik ke atas dan disidangkan,” ungkapnya. Pihaknya akan terus membangun sinergi dengan penegak hukum dan mempertahankan prestasi yang sempat diraih pejabat lama.
Seperti diketahui, Satreskrim Polres Tegal telah menetapkan lima tersangka dalam kasus dugaan korupsi Road Race Waduk Cacaban, Kecamatan Kedung Banteng, yakni Mukson Mawar, yang merupakan kontraktor. Husni Raharjo yang saat proyek itu dikerjakan menjabat sebagai Ketua Panitia Pemeriksa Pekerjaan (P3), Roelly Riztyo dan Sudaryono yang merupakan anggota P3 dan Sudori pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK).
Pembangunan sirkuit road race Cacaban ini berasal dari APBD Kabupaten Tegal tahun 2008 senilai Rp 1,8 miliar lebih. Namun ada kerugian negara senilai Rp 458 juta lebih. Pihak kontraktor menyatakan pembangunan sirkuit ini sudah mencapai 85,2 persen karena batas waktu pengerjaan sudah selesai dan menyerahkannya kepada SKPD sebagai pengguna anggaran. Namun faktanya dalam masa pemeliharaan sirkuit road race ini hancur dan bagian lintasan tidak bisa digunakan lagi. Semestinya perbaikan lintasan road race yang rusak ini masih menjadi tanggung jawab kontraktor.
Sedangkan P3 semestinya melakukan pengawasan per item namun ketiga P3 hanya melakukan pemeriksaan ketika proyek dinyatakan mencapai 85,2 persen. Selain itu mereka juga tidak bisa menjawab item kekurangan sisa dari 85 persen. Para tersangka tersangka ini bakal dijerat Undang-undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang tindak pidana korupsi dan Undang-undang Nomor 18 tahun 1999 tentang Penyalahgunaan Jasa Konstruksi. (her/jpnn/smu)