KENDAL—Lokalisasi Gambilangu atau biasa dikenal GBL siap menampung pekerja seks komersial (PSK) dari Dolly Surabaya. Hal itu menyusul penutpan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu oleh Walikota Surabaa Tri Rismaharini.
“Kami siap menampung, tidak alasan khusus hanya alasan kemuniasaan saja. Sebab, kami pengurus resososialisasi Gambilangu melihat berat bagi PSK Dolly dengan penutupan tanpa diberikan pekerjaan atau jalan keluarnya,” ujar Pengurus Resos GBL, Sugito.
Menurutnya, PSK masih perlu mencukupi biaya hidupnya, apalagi jika para PSK tersebut sudah memiliki keluarga ataupu anak yang membutuhkan biaya kesehatan, pendidikan dan kebutahan sehari-hari.
Bagi PSK Dolly, lanjut Sugito yang akan menghuni lokalisasi GBL harus memenuhi beberapa persyaratan. Yakni syarat yang memang diwajibkan kepada para PSK yang akan menghuni lokalisasi yang terletak di perbatasan Kendal-Semarang itu.
Diantaranya tes kesehatan dan dinyatakan tidak mengidap HIV/AIDS dan melengkapi administrasi data diri atau asal-usul yang jelas. Hal itu untuk mengantispasi penyebaran penyakit inveksi menular seksual (IMS) ataupun penyakit mematikan yang disebabkan dari virus HIV/AIDS.
“Jangan sampai PSK Dolly nantinya kesini hanya membaw penyakit saja. Selain itu wajib mengikuti aturan dan segala kegiatan yang adakan resosiliasi GBL, seperti tes kesehatan setiap minggu dan penggunaan kondom,” tandasnya.
Sugito mengaku tidak membatasi jumlah PSK Dolly yang akan pindah ke GBL. Kendati demikian, pihaknya berharap tidak ada PSK Dolly yang pindah ke GBL. Sebab, dia memprediksi, pasca penutupan lokalisasi Dolly banyak PSK yang pindah masih disekitaran Jawa Timur lainnya.
Sebab meski Dolly ditutup, lokalisasi lain di Jawa Timur masih banyak yang masih beroperasi. Menurutnya di Jatim masih banyak lokalisasi lain buka, seperi Lokalisasi Semampir di Kediri dan Malang.
“Sejauh ini di GBL belum ada eksodus PSK dari Dolly. Kalaupun toh ada, pasti akan kami tes terlebih dahulu,” tandasnya.
Jumlah PSK di GBL ada 425 orang, sekitar 260 orang GBL wilayah Kendal dan sisanya 165 GBL wilayah Semarang. “Kami tegas dalam menegakkan aturan di sini. Apalagi terkait bahaya HIV/AIDS,” tegasnya.
Argi, salah seorang pemandu karaoke di lokalisasi GBL mengaku tidak khawatir jika nantinya ada PSK Dolly yang pindah ke GBL. Menurutnya, hal itu tidak mempengaruhi pendapatannya tiap malam.
“Tiap malam sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. Tidak khawatir karena tamu yang datang biasanya sudah langganan. Hanya sedikit tamu baru,” katanya.
Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti belum mengambil langkah untuk mengantisipasi eksodus pekerja seks komersial (PSK) Dolly Surabaya. “Kami belum berfikir ke arah sana, soal kemungkinan adanya PSK dari Dolly yang masuk ke Kabupaten Kendal,” katanya.
Widya mengaku, pihaknya berjanji akan segera membahas persoalan ini di tingkat internal Pemerintah Kabupaten Kendal. Yakni akan melakukan koordinasi dengan SKPDnya untuk mengantisipasi adanya penambahan PSK Dolly.
“Segera kami akan rapatkan hal ini dengan secara internal dengan pihak terkait seperti Dinas Sosial, Bapermaspemdes, dan lainnya. Kami memastikan akan ada pendataan lagi PSK di Gambingu agar mudah kami lakukan pengawasan,” paparnya.
Jika sampai ada PSK Dolly yang datang ke Kendal, Widya akan melaporkannya kepada Walikota Surabaya agar juga dicarikan solusi. Sebab hal itu adalah dampak dari penutupan Dolly.
Dia berharap, penutupan lokaliasai terbesar di Asia Tenggara itu tidak berdampak negatif bagi Kabupaten Kendal. (bud)