150 Buruh Perajin Canting Dirumahkan

158

PEKALONGAN-Sebanyak 18 perajin canting batik di Kelurahan Landungsari dan Kuripan, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, dalam sepekan ini telah memberhentikan sebanyak 150-an karyawannya. Alasannya, bahan baku utama tembaga sulit dicari dan tidak order pembuatan canting tembaga berkurang drastis.
Menurut perajin canting di Kelurahan Kuripan Gang 7, Kecamatan Pekalongan Selatan, Ahmad Safi’i, 42, sepinya order canting dari para pengusaha batik, mulai dirasakan sejak setahun lalu. Puncaknya setelah bulan Mei lalu, bahan baku tembaga mulai sulit dicari dan harganya terus naik hingga 20 persen dari harga semula. “Kami terpaksa merumahkan 7 karyawan sejak 3 bulan lalu,” tandasnya prihatin.
Menurutnya, sepinya order pembuatan canting dan mahalnya harga bahan baku, membuat usahanya seret. ”Dulu dalam sebulan bisa terima order 8 canting, sekarang order satu canting saja sulit didapat,” ungkap Safi’i yang sekarang hanya memiliki 3 karyawan dari 19 karyawan sebelumnya.
Ketua Paguyuban Perajin Canting, Kota Pekalongan, Zaenal Abidin, 64, mengatakan bahwa sepinya order pembuatan canting, lebih disebabkan lesunya penjualan batik di pasaran, bukan karena mahalnya bahan baku. Menurutnya, canting tembaga dipesan jauh sebelum bulan puasa dan 2 bulan sebelum puasa sudah digunakan. Sehingga memasuki bulan puasa, nyaris tidak ada order.
”Kalau bahan baku tembaga naik, masih bisa beli. Dan harga canting disesuaikan dengan kenaikan harga. Tapi yang sekarang terjadi, bahan bakunya sulit didapat, dan order pun sepi. Karena penjualan batik juga ikut sepi,” kata Zaenal yang semula memiliki 43 karyawan, sekarang tinggal 8 orang yang masih bekerja.
Warga Kelurahan Kuripan RT 05 RW 03, Kecamatan Pekalongan Selatan ini, berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan agar membantu mempromosikan kelompok perajin canting. Selain itu, memberikan bantuan modal kerja dengan bunga kecil.
“Saat ini, pemesan canting hanya memberikan uang muka tanda jadi pesan sebesar 10 persen dari harga canting. Tentunya, hal itu memberatkan perajin canting karena harga bahan baku juga naik. Satu canting rata-rata harganya Rp 3 jutaan, dikerjakan dalam waktu satu bulan oleh 5 karyawan. Kalau perajin hanya dapat uang muka Rp 300 ribu, tentu kesulitan membeli bahan baku dan bayar karyawan,” tandas Zaenal.
Sementara itu, Wali Kota Pekalongan, Basyir Ahmad menjelaskan bahwa Pemkot Pekalongan berencana membuat kampung canting di Kelurahan Landugsari dan Kuripan. Baginya, kerajinan pembuatan canting di Kota Pekalongan harus dilestarikan, karena termasuk kerajinan yang langka. ”Kelurahan Landungsari dan Kuripan, akan kami jadikan sebagai kampung canting, agar banyak dikunjungi oleh tamu dari luar kota,” jelas Basyir.
Basyir juga menegaskan, dengan adanya kampung canting, maka daerah tersebut juga akan dijadikan objek wisata untuk memperkuat kampung batik yang sebelumnya telah ada. ”Kampung canting akan kami promosikan terus, untuk mendatangkan pengunjung ke Kota Pekalongan dan bisa mampir ke kampung canting. Pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan perajin dan warga sekitar,” tegas Wali Kota Pekalongan. (thd/ida)