Edy Kristijono, Guru MAN 1 Semarang yang juga Pemusik

Edy Kristijono tak hanya sebagai guru. Dia juga menjalani profesi sebagai pemusik yang kerap tampil dari acara satu ke acara lainnya. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Plamongansari
 
NAMA lengkapnya Edy Kristijono. Namun ia kerap disapa Pak Edy. Ia merupakan salah satu tenaga pengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Semarang. Selain menjadi guru, ia juga punya solo organ yang kerap ’ditanggap’ oleh masyarakat.
Ditemui di sekolahnya di Jalan Brigjen Sudiarto Pedurungan Kidul Semarang, Edy menceritakan bahwa awal kesukaannya terhadap dunia musik dimulai sejak kecil. Waktu itu, ia tertarik lantaran ada tetangganya yang punya kelompok band bernama Tugu Muda Band.
”Sejak saat itu saya ingin menjadi pemusik. Alat musik pertama yang saya pegang adalah gitar,” kenang pria kelahiran Semarang 30 Mei 1970 ini.
Selepas lulus sekolah pendidikan guru (SPG), ia lantas melanjutkan pendidikannya dengan masuk ke jurusan sendratasik (Seni, Drama, Tari, dan Musik) IKIP Semarang yang kini berubah menjadi Universitas Negeri Semarang (Unnes).
”Di sana saya belajar semua alat musik. Hampir semua alat saya bisa memainkannya, kecuali beberapa yang agak susah seperti biola dan saxophone,” ungkapnya saat ditemui Radar Semarang di MAN 1 Semarang kemarin (19/6).
Selepas lulus, pria yang mengaku mengidolakan Iwan Fals ini pun malang melintang mengajar musik ke sekolah-sekolah swasta. Hingga akhirnya ia diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di MAN 1 Semarang.
”Selain menjadi guru musik di sekolah, waktu itu saya sudah memiliki grup solo organ bernama Andini Entertainment,” kata pria yang mengaku memiliki darah seni dari orang tuanya ini.
Di sekolah, Edy memiliki cara yang cukup efektif dan unik mengajarkan musik. Ia mewajibkan seluruh siswanya baik cewek maupun cowok di kelas 10 untuk mampu menguasai alat musik gitar.
”Minimal satu lagu mereka menguasainya. Tidak heran jika sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah yang memiliki gitar akustik terbanyak mencapai 50 buah,” ujar suami dari Indah Fajarwati ini.
Berdasarkan cara tersebut, banyak alumni dari sekolahnya yang menjadi musisi. Bahkan, ada beberapa yang telah memiliki solo organ seperti dirinya. Tidak sampai lulus, ada juga beberapa siswanya yang mahir menjalankan aneka jenis musik.
”Di antara beberapa hal yang masih menjadi kendala adalah ketidakmampuan orang tua untuk memfasilitasi anak bermain musik. Selain itu, masih ada yang mengganggap bermain musik itu haram. Ini yang harus saya break ke depannya,” ungkap pria yang pernah mengantarkan MAN 1 Semarang menjadi juara II lomba band tingkat Kota Semarang ini.
Sukses di sekolah, mengikuti sukses Edy di luar sekolah. Ia kerap mendapat tawaran manggung dari berbagai kalangan. Baik dari rekan-rekan sesama guru, juga masyarakat. Dalam sebulan, ia bisa mendapat job hingga 4-5 kali, baik di acara pernikahan, ulang tahun, maupun perpisahan sekolah.
”Kebanyakan masih di dalam kota. Kalau di luar kota pernah beberapa kali cuma tidak sering,” ungkap pria yang mengaku aksinya pernah ditonton Wali Kota Semarang ini.
Meski kerap main di luar, tidak lantas mengganggu aktivitas Edy sebagai pengajar. Jika permintaan dilakukan pada hari aktif, maka ia cukup memantau anggota yang memainkannya. ”Jika pada Sabtu-Minggu saya bisa total menjalankannya,” ujar ayah dua anak: Alma Novia Garini dan Aswangga Oda Indrasta ini.
Pengalaman yang paling berkesan bagi Edy adalah ketika ia mampu mengiringi jenis lagu daerah Sulawesi ketika ada permintaan dari warga. Dari situ, ia mengaku mendapat saweran lebih banyak dibanding biasanya.
”Saya bisa memainkan semua jenis musik mulai dari pop, melayu, dangdut, barat, juga religi. Pokoknya mengikuti pasar,” ungkap pria yang mengaku rutin mengiringi acara Al-Kalam yang ditayangkan di TVRI ini.
Adapun pengalaman yang paling menyedihkan bagi Edy adalah ketika ia pernah terjatuh lantaran panggung tempatnya perform goyah dikarenakan banyaknya orang yang berjoget. Selain itu, ia pernah hanya dibayar Rp 350 ribu sekali tampil.
”Sebenarnya harga saya fleksibel dan bisa dinego. Yang penting bisa menyenangkan semua pihak,” ujar pria yang mengaku rata-rata dibayar Rp 1,5 juta untuk sekali tampil ini.
Bagi Edy, musik adalah alat untuk menyeimbangkan antara otak kanan dan kiri. Orang yang menyukai musik akan memiliki perasaan yang lembut, dan merasakan keindahan yang luar biasa dibandingkan orang yang tidak suka musik.
”Karena itu, ibu hamil sebaiknya diperdengarkan jenis musik klasik atau lantunan ayat suci,” kata pria yang tinggal di Jalan Banowati Tengah Gang VI No 2 Semarang ini.
Edy berharap, dapat lebih banyak mengajarkan musik kepada masyarakat. Sehingga mereka dapat merasakan keindahan dan memiliki perasaan halus. Terutama menghadapi globalisasi seperti saat ini. Sehingga perkembangan musik di Indonesia dapat berkembang lebih baik lagi. ”Pokoknya orang yang dapat bermain musik lebih romantis,” pungkas pemilik moto hidup iso rumongso ojo rumongso iso ini. (*/aro/ce1)