Panji-Panji Keliling 15 Kecamatan

182

WONOSOBO –  Memulai rangkaian Hari Jadi Wonosobo ke-189, kemarin (19/6) ribuan orang memadati Alun-Alun Wonosobo, menyaksikan upacara buka panji-panji kebesaran Wonosobo. Setelah panji-panji dikeluarkan dari pendopo kabupaten, diserahkan ke Kecamatan Wonosobo kemudian akan berkeliling ke 15 kecamatan di kota dingin itu.
Ribuan orang dari berbagai desa mengenakan baju khas Jawa dan kesenian tradisional memadati alun-alun. Tak hanya itu, barisan antarkecamatan juga memboyong berbagai potensi hasil bumi yang dibuat gunungan.
Acara dimulai dengan penyerahan empat panji, meliputi songsong agung kamulyan, tumbak korowelang, bendera merah putih (gula kelapa), dan panji lambang daerah.
Wakil Bupati Wonosobo Maya Rosida, ketua DPRD, kapolres, dan Dandim menyerahkan keempat lambang tersebut, masing-masing kepada Camat Wonosobo, Kapolsek Kota, sekretaris camat, dan Danramil Kota Wonosobo. Untuk selanjutnya para camat dan jajaran muspika akan menggelar kirab panji di 15 kecamatan, sampai tibanya Hari Jadi Wonosobo, pada 24 Juli mendatang.
Setelah panji-panji diserahkan, oleh muspika Wonosobo dibawa keliling kota diiringi barisan panjang. Namun sayang, acara sempat terganggu karena saat pawai baru saja dimulai, hujan deras mengguyur kota dingin itu, sebagian ada yang memilih keluar barisan, namun banyak juga yang tetap berjalan melawan hujan.
Wakil Bupati Wonosobo Maya Rosida saat memimpin upacara mengatakan, prosesi serah terima dan dilanjutkan dengan kirab panji di masing-masing wilayah tersebut, dapat dimaknai sebagai upaya untuk melestarikan budaya luhur sarat nilai-nilai kehidupan.  
“Keempat lambang kebesaran tersebut, memiliki arti berbeda,dan mempunyai makna besar bagi Wonosobo,”katanya.
Maya menguraikan, songsong agung kamulyan sebagai lambang pengayoman atau kekuasaan, merupakan simbol penguasa (bupati) yang berkewajiban melindungi rakyat tanpa pandang bulu. Sementara tombak korowelang atau disebut juga tumbak ketenteraman melambangkan senjata kepercayaan diri serta keberanian seorang pemimpin dalam menjaga keamanan, ketenteraman, dan perlindungan menyelurh dalam tata pemerintahan, seperti dilakukan oleh kapolres.
“Sedangkan bendera merah putih mengedepankan perjuangan bela negara yang berkibar di setiap dada. Dengan gagah berani, dilandasi dengan kesucian untuk mengobarkan perjuangan, melambangkan tugas seorang dandim,”ujarnya.
Usai upacara dan pawai, pada hari itu pula digelar berbagai kesenian tradisional dipusatkan di alun-alun, seperti reog, lengger, kuda kepang, liong, barongsai dan berbagai jenis kesenian lain. (ali/lis)