Pabrik Pengemasan Miras Digerebeg

101

MUNGKID– Satuan Narkoba Polres Magelang menggerebeg sebuah rumah yang dijadikan tempat pengemasan minuman keras (miras) di Dusun Pringtali Desa Jogonegoro Kecamatan Mertoyudan, kemarin. Ribuan botol miras dengan cukai dan label palsu dari berbagai merk langsung disita.     
Penggerebegan dilakukan sekitar pukul 12.00 siang. Saat itu, pemilik rumah, Edy, sedang mengemasi miras dari jeriken ke botol-botol kecil. “Kita mendapatkan informasi dari masyarakat jika ada pabrik rumahan pengemasan minuman keras disini,” kata Kapolres Magelang AKBP Murbani Budi Pitono, kemarin.
Dalam operasi tangkap tangan itu, polisi berhasil menyita 10 jeriken miras dan ribuan botol siap edar. Miras itu dilabeli Vodka, Mansion dan Wiskey. Polisi juga mengamankan sebuah alat pengemas.     
Sekilas miras botol gepeng itu mirip dengan aslinya. Apalagi setelah diberikan label dan pita cukai.  “Tersangka ini memesan bahan baku dari Jakarta, kemudian mengemasinya dengan botol-botol yang didapatkan dari pengepul barang bekas,” tambah Kapolres didampingi Kasat Narkoba AKP Eko Sumbodo.
Setiap hari, kata dia, tersangka mengemasinya sendiri. “Tidak punya karyawan,” katanya.     
Eko Sumbodo menjelaskan, dalam sehari tersangka berhasil mengemas 120 botol. Kemudian dimasukkan ke dalam kardus. “Setiap kardus berisi 24 botol dijual Rp 400 ribu,” terangnya.     
Produk miras ini, banyak dipesan oleh tempat-tempat hiburan di Kopeng Kabupten Semarang. Juga di Temanggung dan Wonosobo. Sementara itu, tersangka mengaku baru beroperasi kurang dari sebulan lalu. Dia menjalankan bisnis bersama seorang rekan lainnya.     
Dari hasil bisnis ini, dia mengaku mengntongi keuntungan yang cukup besar. Apalagi permintaan miras ini sangat tinggi. Bahan baku miras ini, kata dia dikirim langsung menggunakan paket dari Jakarta. “Saya bayar transfer,” kata dia.
Kepala Desa Jogonegoro, E.M Fauzi mengaku tidak tahu menahu jika ada warganya yang menggelar bisnis haram ini. Dia baru tahu setelah dijadikan saksi penangkapan tersangka dan penyitaan barang bukti.     
“Saya kira ada penangkapan judi. Ternyata miras,” ungkap dia. Dia mengatakan tersangka memang merupakan warga asli. Namun, aktivitasnya tak terpantau karena berada di pinggir dusun dekat kebun.
Akibat perbuatannya ini, polisi bakal menjerat tersangka dengan Perda Nomor 12 Tahun 2012 tentang Miras. Namun, yang lebih parah dia bisa dikenakan pasal 55 UU No 39 Tahun 2007 tentang pemalsuan pita cukai dengan hukuman minimal 8 tahun penjara. (vie/lis)