Membumikan Budaya Jawa di Sekolah

139

Halo sobat eksis! Apa kabar nih? Semoga kabar baik ya! Ketemu lagi dengan tim eksis SMP 17 Semarang. Pada edisi kali ini, tim eksis mengangkat sebuah topik yang agak berbeda dari biasanya yaitu tentang pendidikan budi pekerti (karakter). Topik itu diangkat karena SMP Negeri 17 Semarang baru saja dipercaya Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Sarasehan Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa dengan tema ”Bahasa dan Sastra Jawa sebagai Sarana Pendidikan Budi Pekerti” pada 24 Mei 2014 lalu.
Sarasehan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan sebulan sekali oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Tujuan sarasehan adalah melestarikan bahasa, sastra, dan budaya Jawa dan menjalin silaturahmi dengan instansi-instansi yang turut peduli dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Dalam sarasehan itu dihadirkan narasumber dari akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi di bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa, yaitu Yusro Edy Nugroho SS MHum dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Drs Arief Suharsoyo MPd dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
”Kami menunjuk SMP 17 Semarang sebagai tempat pelaksanaan sarasehan agar bahasa, sastra, dan budaya Jawa makin dekat, dikenal, dan dicintai generasi muda, khususnya kalangan pelajar,” tutur Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Drs Pardi MHum saat diwawancarai via telepon.
Lebih lanjut, Pardi yang juga telah menulis banyak buku itu menuturkan, dari kecintaan pada bahasa dan budaya Jawa itulah, anak-anak kita belajar tentang nilai-nilai budi pekerti yang dapat membentuk kepribadian dan karakter manusia. ”Mereka hanya perlu dikenalkan dan didekatkan dengan budaya mereka sendiri,” katanya. Nah, benar kan sobat eksis?
Tau nggak, acara sarasehan itu kata para peserta terasa gayeng. Acaranya digelar dengan format santai dan akrab, tapi serius juga lho. Para peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, guru, siswa, pemerhati bahasa, sastra, dan budaya Jawa, wartawan, sastrawan, serta masyarakat umum duduk santai beralaskan tikar di hall SMP 17 ditemani angin malam yang sejuk nan semilir. Mereka disambut dengan tembang-tembang Jawa yang dibawakan oleh tim karawitan SMP 17 Semarang di bawah asuhan Tukijo. Ada tembang Suwe Ora Jamu, Prau Layar, dan tembang-tembang Jawa yang lain.
Mungkin sobat eksis bertanya-tanya, apa hidangan yang menemani peserta sarasehan? Kasih tau nggak ya? Eh, kok kayak Subro finalis D Academy nih. Yang jelas, sajiannya njawa banget. Ada wedang jahe, gedang, kacang, dan kimpul godok. Acara dimulai dengan geguritan yang dibawakan oleh Dinda Dewi Novitasari (kelas IXD) dengan cukup apik.
Acara inti malam itu tambah gayeng dengan penampilan Drs Arief Suharsoyo MPd yang menyajikan materi ”Serat Wulang Reh lan Budi Pekerti” dengan gaya ndalang. Gaya itu tak pelak menarik perhatian peserta sarasehan, khususnya para siswa. Lebih heboh lagi, ketika Arief mengajak kolaborasi dengan tim karawitan SMP 17 pada bagian goro-goro dengan menyanyikan beberapa tembang Jawa yang populer seperti Prau Layar yang diikuti oleh peserta sarasehan. Selanjutnya, pada acara dialog pun makin tambah hidup dan menarik. Pesan-pesan moral dalam Serat Wulang Reh itu dibedah dan dikupas narasumber dengan gaya lugas dan ringan yang membuat para siswa makin tertarik memahami isi serat jawa itu.
Di akhir acara, Ketua Komite SMP 17, Drs Sudharto MSi berpendapat, kegiatan ini merupakan cara pintar dan menarik untuk mengenalkan dan membumikan budaya Jawa di kalangan generasi muda. Harus ada kerja sama dan kepedulian dari berbagai pihak untuk nguri-uri budaya Jawa, khususnya bagi generasi muda. ”Jangan sampai anak-anak kita kelak kehilangan identitas Jawa-nya seperti ungkapan wong Jowo ilang jowone.”
Nah, bagaimana sobat eksis, kalian setuju kan? Ayo, kenali dan cintai budaya Jawa kita yang adiluhung. (tim eksis/ton/ce1)

Silakan beri komentar.