SEMARANG – Kredit perbankan pada triwulan pertama tahun ini berjalan lambat. Kredit yang tersalurkan menurun dibanding tahun lalu, dari 16,98 persen di periode I tahun 2013 menjadi 16,45 persen. Pihak Bank Indonesia saat ini tengah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penyaluran kredit.
“Untuk memacu pertumbuhan kredit perbankan, kita perlu meningkatkan kredit sektoral. Khususnya sektor pertanian yang selama ini belum dioptimalkan,” papar Divisi Asesmen Bank Indonesia Kantor Perwakilan wilayah V Jateng-DIY Budi Trisnanto.
Dijelaskan, khusus untuk kredit sektor pertanian pada triwulan pertama 2014 kontribusinya mencapai 13,88 persen, kemudian industri perdagangan besar dan eceran 13,84 persen. “Artinya kredit sektor pertanian dan perdagangan sangat diminati oleh masyarakat, namun belum dioptimalkan. Harapan kami ini bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.
Dia mengatakan, kredit perbankan memang melambat, namun sejauh ini pangsa pasar penyaluran kredit pada kelompok bank umum berjalan baik dan akan terus ditingkatkan. Pihaknya menegaskan, dukungan kredit perbankan terhadap kegiatan ekonomi di Jateng sejauh ini berjalan baik meski tren pertumbuhannya menurun.
Sementara, berdasarkan kredit sektoral itu non performing loan (NPL) atau kredit macet pada sektor utama termasuk pertanian di Jateng tercatat masih berada di bawah level 5 persen. Sedangkan untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Jateng dan DIY meningkat dari 15,24 persen di triwulan I 2013 menjadi 15,29 persen pada periode sama tahun ini. “Sementara itu pada periode ini aset tumbuh melambat menjadi 14,89 persen dari 15,39 persen di periode sebelumnya,” tegasnya. (dna/smu)