Sudah Dua Tahun Jembatan Randumuktiwaren Putus dan Rusak

Jembatan Randumuktiwaren yang melintang di atas anak Sungai Sragi, di Desa Randumuktiwaren, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, sejak dua tahun lalu rusak berat rusak dan nyaris putus. Meski membahayakan, namun warga tetap nekad melintasinya.

TAUFIK HIDAYAT, Kajen

JEMBATAN Randumuktiwaren merupakan satu-satunya jalur penghubung antara Kecamatan Sragi dan Kecamatan Bojong. Hampir setiap hari, terpaksa dilintasi ratusan warga Desa Randumuktiwaren dan Desa Pantianom, Kecamatan Sragi, menuju ke Pasar Sragi dan Bojong.
Pasalnya, jembatan darurat sepanjang 20 meter dan lebar 1 meter yang terletak di sebelah jembatan utama yang baru saja dibangun dengan anggaran Rp 100 juta, ternyata hanya bertahan sebulan saja. Kini, tidak dapat digunakan lagi. Kayunya sudah mulai lapuk dan tergerus arus sungai.
”Sejak jembatan darurat tidak bisa digunakan, setiap kali datang hujan dan banjir melanda, akses jalan kedua desa yakni Desa Randumuktiwaren dan Desa Pantianom, Kecamatan Sragi, terputus,” kata Sahroni, 52, warga RT 22 RW 03 Desa Randumuktiwaren, Kecamatan Bojong, Kamis (19/6) siang kemarin.
Menurut Sahroni, setiap kali hujan datang, Jembatan Randumuktiwaren selalu terbenam air sungai, sehingga tidak bisa dilalui sama sekali. ”Kalau hujan turun, ujung jembatan yang putus terbenam sebagian, sehingga tidak bisa dilalui. Biasanya, anak sekolah terpaksa libur,” ungkapnya.
Sahroni menyesalkan adanya pembangunan jembatan darurat yang dibangun di sebelah jembatan utama. Pasalnya, telah menghabiskan dana besar, namun hanya bisa digunakan selama sebulan saja. ”Warga berharap, Pemkab Pekalongan segera membangun kembali Jembatan Randumuktiwaren, agar tidak menyulitkan warga desa,” tambah Sahroni.
Sekretaris Desa Randumuktiwaren, Kecamatan Bojong, Zaenal Abidin menjelaskan bahwa rusaknya Jembatan Randumuktiwaren disebabkan adanya normalisasi Sungai Sragi yang dilakukan oleh DPU Kabupaten Pekalongan pada Oktober 2012 lalu. Saat itu dilakukan pengerukan dan pelebaran sungai, agar tidak terjadi banjir saat hujan besar.
Namun saat dilakukan pengerukan, pihak kontraktor tidak memperhatikan pondasi jembatan, sehingga saat hujan turun dan arus sungai besar, pondasi bergeser ke sebelah barat. ”Sebenarnya kondisi jembatan masih bagus, kuat dan kokoh, namun karena pondasinya bergesar, jembatan jadi putus,” jelas Zaenal.
Karena itulah, kata Zaenal, pihaknya sudah mengirimkan surat kepada Bupati Pekalongan untuk dilakukan perbaikan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda untuk diperbaiki. Padahal sering terjadi korban terpeleset, saat akan menyeberang. ”Kalau hujan turun, pasti ada korban. Karena tanjakan tajam, lantai jembatan juga licin,” kata Zaenal.
Ketika hal itu dikonfirmasikan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Kabupaten Pekalongan, Soegiarto, dikatakan bahwa perbaikan jembatan Randumuktiwaren sudah diambil alih oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kabupaten Pekalongan. Yakni, dengan anggaran bantuan dari Badan Penangulangan Bencana Nasional (BPBN) Pusat.
”Putusnya Jembatan Randumuktiwaren, itu termasuk bencana dan sudah dilimpahkan ke BPBD Kabupaten Pekalongan. Jadi tanyanya ke BPBD, jangan ke DPU,” kata Soediarto emosi.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Jatmiko menegaskan bahwa proposal bantuan yang diajukan ke BPBN di Jakarta, sebesar Rp 900 juta, gagal cair. ”Akibatnya, bantuan dari BPBD untuk pembangunan Jembatan Randumuktiwaren juga ikut gagal,” tandasnya. (*/ida)