SEKAYU – Biasanya membatik menggunakan malam dan canting. Namun kini ada inovasi batik dengan teknik ciprat. Hasilnya pun tak kalah bagusnya. Ini seperti yang dipraktikkan oleh para siswa SMA Negeri 5 Semarang kemarin (19/6). Mereka praktik langsung membatik dengan teknik ciprat yang dipandu oleh Khoirunisa, guru batik dari SLB Negeri Semarang.
Para siswa dibagi beberapa kelompok. Satu kelompok 8 siswa. Mereka menuangkan malam pada selembar kain putih berukuran 2,16 meter x 1,15 meter dengan teknik ciprat. Khoirunisa pun tampak aktif memberikan penjelasan kepada para siswa.
Khoirunisa mengatakan, jika kreasi batik ciprat sebenarnya kreasi dan metode baru untuk menghasilkan batik bagi kalangan siswa SLB. ”Ini adalah kali pertama diajarkan kepada anak normal, memang hasilnya agak beda. Mungkin para peserta agak takut jika hasilnya jelek,” ungkapnya.
Menurut Khoirunisa, pembuatan batik ciprat berbeda dengan batik lukis ataupun batik cap. Perbedaan dasarnya adalah pada penggambaran pola. Jika batik tulis dan cap menggunakan canting, tapi batik ciprat hanya menggunakan cipratan malam yang ditempelkan pada sebuah kain.
”Kalau dari sisi pewarnaan sama, meski yang membuat anak normal, tapi hasilnya sangat berbeda dengan anak SLB. Kalau anak normal lebih pada seni lukis, namun kalau anak SLB lebih ke cipratan yang natural. Tapi, malah bisa jadi kreasi batik baru,” katanya kepada Radar Semarang.

Eka Puspita, siswi kelas IX IPA 3, mengaku sempat bingung saat mempraktikkan batik ciprat. ”Sempat bingung dan takut nanti warnanya bisa tabrakan. Tapi setelah jadi ternyata bagus juga,” ucapnya.

Ke depan, ia berharap bisa membuka usaha sendiri di bidang seni batik ciprat. ”Penginnya punya butik yang semuanya hasil karya saya, tentunya dengan metode batik ciprat,” katanya.
Sebanyak 30 lembar kain batik ciprat yang dihasilkan para siswa kelas X dan IX itu rencananya akan dibuat seragam bagi guru SMA setempat. (den/aro/ce1)