PT Narpati Tambah Volume Sampah

552

Dikelola Menjadi Kompos

BALAI KOTA – Rencana pemanfaatan limbah sampah di Kota Semarang untuk sumber energi yang sempat diwacanakan Pemkot Semarang belum bisa direalisasikan. Rencana kerja sama dengan pihak swasta terkait pengelolaan sampah menjadi sumber energi itu hanya berhenti di tingkat kajian.
Sebelumnya pemkot telah mengkaji usulan PT Narpati terkait terobosan baru pengelolaan sampah menjadi sumber energi listrik. Narpati merupakan rekanan Pemkot Semarang yang selama ini mengelola sebagian sampah di TPA Jatibarang. Setiap hari Narpati mengelola sekitar 250 ton sampah TPA Jatibarang untuk dijadikan pupuk organik. Jika melihat jumlah yang diambil oleh Narpati, memang masih sebagian kecil, karena masih ada sekitar 500 ton sampah yang tak termanfaatkan.
”Kalau kami pantau, sampai di Kota Semarang pernah mencapai 800 ton per hari, tapi sekarang turun menjadi 700 ton. Penurunan tersebut karena masyarakat dan pemerintah sudah menggunakan 3R yakni Reuse, Reduce, Recycle,” terang Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang Ulfi Imran Basuki.
Selama ini, dari ratusan ton sampah yang terbuang, yang dimanfaatkan Narpati memang masih sepertiganya. Namun Narpati telah mengajukan ke pemkot untuk menaikkan pengambilan sampah menjadi 500 ton per hari. Alasannya untuk investasi di bidang energi. ”Selain untuk pupuk organik, sampah tersebut akan diolah menjadi sumber energi,” kata Ulfi.
Pengelolaan sumber energi ini merupakan peluang yang sangat menarik, karena energi masih menjadi persoalan pelik bagi bangsa ini. Apalagi selama ini sampah merupakan bahan buangan dan diolah secara konvensional menjadi pupuk. ”Kalau ini (sampah) jadi sumber energi maka akan menjadi terobosan baru untuk pengelolaan sampah itu sendiri. Sekaligus dapat membantu isu nasional hemat energi. Makanya pemkot secara prinsip sudah komit melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik. Dan terobosan ini sebagai bukti eco-green pro lingkungan merupakan pola pemkot,” tandasnya.
Hanya saja, pengajuan tersebut sampai saat ini masih dalam proses, belum sampai terjadi kesepakatan. ”Memang belum berjalan, masih menunggu kerja samanya. Jika itu terealisasikan, maka sampah yang terbuang di TPA Jatibarang akan semakin kecil, hanya sekitar 200 ton per hari. Sehingga beban TPA tidak lagi berat,” imbuhnya.
Dari data yang diperoleh dari Bagian Kerja Sama Pemkot Semarang, selama ini sistem kerja sama pemkot dengan Narpati adalah mendapat kompensasi dari hasil pengelolaan sampah tersebut. Pemkot mendapat Rp 580 juta per tahun atas pengelolaan tersebut. ”Selama ini untuk mengelola sampah kan mengeluarkan biaya, tapi sekarang kami geser biaya itu jadi pendapatan,” kata Kabag Kerja Sama Agus Sutyoso.
Sekda Kota Semarang Adi Tri Hananto menyatakan, sampai saat ini belum ada perjanjian dengan pihak mana pun terkait pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Selama ini perjanjian bersama Narpati hanya mengambil volume sampah di TPA Jatibarang untuk diolah menjadi kompos. ”Perjanjian bersama PT Narpati yang terakhir kami rapatkan terkait bagaimana cara menambah volume sampah yang bisa dimanfaatkan oleh PT Narpati. Dari yang semula 250 ton menjadi 500 ton. Dan itu sudah kami setujui, itu saja,” kata Adi.
Hanya saja, pemkot belum menyetujui permintaan Narpati terkait penambahan lahan. Alasannya, selama ini kompos hasil olahan PT Narpati belum sepenuhnya keluar dari gudang. ”Kalau gudangnya kurang minta ditambah, tidak mungkin kami penuhi terus, lama-lama lahan akan habis, jika pupuk tidak laku dijual atau belum bisa keluar dari gudang,” terangnya. (zal/ton/ce1)