Ganggu Distribusi Kotak Suara, Didor

112

WONOSOBO – Distribusi kotak suara untuk pemilihan presiden (pilpres) kemarin (18/6) mulai dilakukan. Namun, saat petugas melakukan distribusi, tiba-tiba ada belasan orang tak dikenal menganggu. Mereka menodongkan senjata api dan senjata tajam, menghentikan kendaraan yang mengangkut barang. Kemudian membuang semua kotak suara ke jalanan. Tak begitu lama, polisi datang dan terjadi baku hantam.
Sejumlah petugas KPU menggunakan angkutan bak terbuka dikawal linmas dan dua polisi membawa beberapa kota suara. Saat hampir sampai di Kecamatan Kertek, tiba-tiba ada belasan massa mengendarai sepeda motor membuntuti angkutan tersebut. Saat sampai di perempatan Kertek, belasan orang itu menghentikan mobil dan memaksa petugas KPU turun.
Sambil menodongkan senjata api dan clurit, belasan orang yang menggunakan tutup muka itu naik ke angkutan dan membuang semua kotak suara. Namun, aksi ini langsung diketahui oleh tim anti anarkis Polres Wonosobo. Saat petugas datang, belasan orang ini melawan, menggunakan senjata tajam dan senpi.
Namun, dengan sigap pasukan anti anarkis ini mampu meredakan. Mereka melepaskan tembakan peringatan, namun tidak digubris, dengan terpaksa satu per satu kawanan pengganggu ini ditembak hingga lumpuh. Setelah itu, langsung digelandang ke Mapolres Wonosobo.
Aksi di atas bukan sebenarnya, namun hanya simulasi yang dilakukan oleh Polres Wonosobo, Rabu (18/6) di halaman Mapolres Wonosobo dan Jalan Bhayangkara sebagai persiapan pengamanan menjelang Pemilihan Presiden 9 Juli mendatang.
Kapolres Wonosobo AKBP Agus Pujianto mengatakan, kegiatan ini sebagai langkah persiapan dalam pengamanan pilpres. Proses pelatihan dan tahapan persiapan pengamanan sebanrnya sudah dilakukan sejak 4 Juni lalu. Namun untuk gelar simulasi baru dilangsungkan kemarin melibatkan semua personel yag terlibat dalam pengamanan pilpres.
Agus mengatakan dalam simulasi ini, diterapkan proses pelatihan pengamanan dari level satu sampai dengan level anarkis. Tujuannya agar semua anggota memahami tahapan pengamanan.
“Kenapa ada adegan senpi, karena belakangan di Wonosobo ini kerap ada komplotan yang menganggu kamtibmas menggunakan senpi,” katanya.
Ditambahkan, dengan penguasaan pengamanan ini, diharapkan anggota akan memhami fasi demi fase dalam menghadapi gangguang kamtibmas. Ke depan diharapkan selama musim pilpres kejadia seperti itu tidak diharapkan.
“Sistem deteksi dini oleh tim intelijen kami, menjadi pola pertama dalam penanganan kasus. Harapannya jangan sampai proses pilpres terjadi gangguan,” ujarnya.
Dalam pengamanan pilpres ini, Agus menyebutkan akan melibatkan 350 personel yang akan menjaga pengamanan tiap desa. Pola pengamanan melibatkan 2 polisi per desa, 16 linmas dan anggota KPPS. Meski begitu, sampai saat ini berdasarkan pemetaan yang dilakukan pihaknya, belum ada daerah dengan pola pengamanan khusus. (ali/lis)