MUNGKID– Oknum pensiunan TNI diduga menjadi dalang kasus peredaran dan penggunaan narkotika jenis sabu di wilayah Kabupaten Magelang. Sayang, pria berinisial Dri, ini melarikan diri sesaat setelah Satuan Narkoba menangkap rekannya, Bonufius Sutrisno, 42, di SPBU Armada Mertoyudan.
“Dari dua pelaku kita baru berhasil menangkap satu orang. Rekannya berhasil kabur,” kata Kapolres Magelang AKBP Murbani Budi Pitono didamping Kasat Narkoba AKP Eko Sumbodo, kemarin.
Dari hasil penyelidikan dan pemerikaan terhadap tersangka Bonufius, pelaku yang kabur diduga kuat adalah oknum pensiunan TNI. “Tapi kita masih terus dalami dan akan kita kejar,” katanya.
Bonufius yang bekerja sebagai tambal ban itu ditangkap oleh Sat Narkoba pekan lalu sekitar pukul 02.00 dini hari usai mengambil paket sabu bersama Dri, di daerah Japunan Mertoyudan.
“Kita sudah memantau keduanya sejak beberapa minggu terakhir. Namun saat kita menangkap Bonufius, rekannya bisa kabur dengan motor,” kata dia.
Dari tangan tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya paket sabu-sabu seberat 0,5 gram, handphone dan alat hisap. “Kata tersangka mau dipakai di bengkel berdua,” tambahnya.
Dari hasil tes urine, tersangka juga dinyatakan positif menggunakan narkotika. “Dia pemain lama, tapi baru kali ini ditangkap,” terangnya. Eko menuturkan untuk mengungkap jaringan Bonufius pihaknya harus bekerja ekstrakeras.
Polisi dua kali menyergap para bandar narkoba di dekat Bumi Prayudan dan dekat Seminari namun gagal. Kasus ini rencananya akan dikembangkan lagi untuk mengejar bandar besar.
Sementara itu, Bonafius mengaku dirinya mengonsumsi sabu-sabu karena stres setelah bengkel yang dikelola sepi. Sebelum bengkel pindah ia bisa mengantongi pendapatan kotor Rp 200 ribu per hari maka kini pendapatan yang dia peroleh tidak menentu.
Bonafius menceritakan membuka bengkel motor dan layanan ganti oli serta ban bekas di dekat kompleks Akmil Magelang. Namun karena ada larangan membuka bengkel di pinggir jalan raya maka ia pindah ke ruko Pasar Kampung Banyurojo sejak dua tahun lalu. Di lokasi baru ini ternyata usahanya sepi sehingga Bonufius merasa tertekan.
“Sejak Mei saya mulai konsumsi sabu-sabu. Biasanya patungan dengan teman-teman Rp 100 ribuan. Saya tidak mesti pakai, tergantung ada yang mengajak tidak. Saya stres bengkel sepi,” kata Bonufius. (vie/lis)