GUNUNGPATI – Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) serentak dilaksanakan Selasa (17/6) kemarin. Persiapan matang telah dilakukan oleh panitia SBMPTN untuk mengantisipasi praktik kecurangan dari peserta, termasuk praktik perjokian. Tapi, rupanya peserta SBMPTN tak kurang akal. Dengan memanfaatkan kelengahan pengawas, praktik kecurangan masih saja terjadi.
Pantauan Radar Semarang kemarin, beberapa kecurangan dilakukan oleh peserta SBMPTN. Seorang peserta asal SMA Negeri di Grobogan misalnya, saat SBMPTN mengaku jika dirinya bisa dengan leluasa saling bertanya dengan peserta lain dalam satu ruangan meski tak saling kenal.
”Dua pengawas pada keluar masuk, sehingga tidak terlalu memperhatikan kita,” katanya, Selasa (17/6).
Peserta lain mengatakan, pengawasan memang diperketat, namun hal tersebut hanya di beberapa ruang saja. ”Ruangan saya pengawasnya juga tidak begitu ketat, tadi masih bisa mencari jawaban dengan browsing internet lewat handphone,” kata salah satu peserta asal SMA swasta di Pekalongan.
Berbeda dengan pengakuan peserta yang berasal dari SMA Negeri di Magelang ini. Ia mengaku pengawasan dalam ruangannya sangat ketat. ”Untung semalam sudah belajar, jadi tetap optimistis bisa mengerjakan dengan benar, biar pun tadi pengawas dalam ruangan ketat banget,” ujarnya.
Pakar pendidikan Kota Semarang, Ngasbun Edgar, mengatakan, seharusnya pengawas melakukan fungsinya dengan benar. ”Tidak harus ketat, namun setidaknya suasana ruangan dibuat senyaman mungkin. Agar peserta dapat mengerjakan dengan baik,” kata Wakil Sekretaris Umum PGRI Jateng ini.
Ngasbun mengkhawatirkan, jika pengawas tidak melakukan fungsinya dengan benar, nantinya akan berdampak pada kualitas mahasiswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). ”Jika mereka diterima di PTN, karena hasil menyontek bukan dari jerih payahnya sendiri, maka merugikan PTN tersebut,” tutur Ngasbun.
Tahun ini, lokasi ujian juga telah dikelompokkan, yakni di kampus IAIN Walisongo, SMP 16, SMP 18, SMA 6, SMP 1, dan SMA 5 untuk kelompok pendaftar tes campuran. Kampus Unnes Sekaran, SMA Kesatrian 1, SMK 6, SMA/SMK Teuku Umar, SMA 12, SMK 2, SMA Institut Indonesia, SMA/SMP Ibu Kartini, MA/MTs Al Asror, dan IKIP Veteran untuk pendaftar sains dan teknologi (saintek). Serta kampus Undip Tembalang, Undip Pleburan, SMP 7, dan SMP 21 untuk sosial humaniora (soshum).
Sementara itu, profesi dokter masih menjadi favorit calon mahasiswa baru. Meski untuk kuliah menjadi dokter, masyarakat harus merogoh kocek dalam-dalam, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya pendaftar jurusan Kedokteran di Universitas Diponegoro (Undip), yakni mencapai 1.573 pendaftar.
Menurut Rektor Undip Sudharto P. Hadi, hal tersebut menunjukkan animo masyarakat dalam dunia kesehatan masih tinggi. ”Hal tersebut merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Undip,” kata Sudharto kepada Radar Semarang saat memantau jalannya ujian SBMPTN di kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip Tembalang, Selasa (17/6).
Jalur SBMPTN pada tahun ini, kata dia, Undip menyediakan 2.262 kursi, dari total mahasiswa yang akan diterima Undip sebanyak 7.542 kursi. Terdiri atas 3 jalur seleksi, yakni SNMPTN, SBMPTN, dan UM.
Sudharto mengemukakan, FK Undip masih menjadi pilihan favorit bagi siswa, disusul jurusan Akuntansi dengan jumlah pendaftar 1.295 orang, kemudian Ilmu Hukum dengan jumlah pendaftar 1.270 dan jurusan Manajemen dengan pendaftar 1.269 orang.
SBMPTN sekaligus seleksi hasil ujian tertulis dengan atau tanpa ujian keterampilan dapat diikuti oleh siswa yang telah lulus unas 2012, 2013, dan 2014. ”Ini berbeda dari SNMPTN yang hanya diikuti siswa yang akan lulus unas pada tahun ini,” kata Sudharto.
Menurut orang nomor satu di Undip ini, SNMPTN merupakan pola seleksi berdasarkan prestasi akademik. Dari penelitian yang dilakukan, lanjut Sudharto, siswa yang diterima di jalur SBMPTN mempunyai nilai akademik rata-rata sedikit lebih baik dibandingkan dengan jalur lainnya.
Sudharto menjelaskan, peserta ujian dalam SBMPTN tahun ini mengerjakan jenis soal yang terdiri atas tes potensi akademik (TPA). Selebihnya tes kemampuan dasar umum (TKDU) yang terdiri atas kemampuan matematika dasar, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Kepala Biro Administrasi Akademik Undip Embun Setyawan menambahkan, tes kemampuan dasar saintek (TKD Saintek) terdiri atas kemampuan matematika, biologi, kimia, dan fisika. Selanjutnya tes kemampuan dasar sosial dan humaniora (TKD Soshum) terdiri atas kemampuan sosiologi, sejarah, geografi, dan ekonomi. (mg1/aro/ce1)