70 Siswa Raih Nilai 10, Terapkan Bimbingan di Sekolah

148

SMPN 1 Wonosobo Ranking 3 Jateng, Alvianta Rahchmawati Juara Kabupaten

SMP Negeri 1 Wonosobo menorehkan prestasi gemilang. Tahun ini dari hasil ujian nasional, sebanyak 200 siswanya lulus seratus persen. Tak hanya itu, sebanyak 70 siswa juga mampu meraih nilai 10 pada beberapa mata pelajaran.

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

Lokasi SMP Negeri 1 Wonosobo, berada dipusat kota, tepatnya sebelah barat Alun-Alun Wonosobo. Pada senin lalu, sejumlah siswa utamanya kelas IX wajahnya tampak cerah. Sebab, semua siswa lulus dengan nilai cukup tinggi. Bahkan meraih ranking 1 untuk tingkat Kabupaten Wonosobo. Tak hanya itu, di level Jawa Tengah, salah satu SMP favorit di kota dingin itu, menempati ranking 3.
Prestasi membanggakan juga diraih salah satu siswa SMP 1 Wonosobo Alvianta Rahchmawati. Gadis kelahiran 26 Agustus 1998 ini, menyabet ranking satu tingkat Kabupaten Wonosobo dengan perolehan nilai total dari empat pelajaran 39 atau rata-rata 9,75. serta ranking 14 Provinsi Jawa Tengah
Menurut Kepala SMP 1 Wonosobo Parwanto, hasil ujian nasional tahun ini patut disyukuri semua pihak. Karena Wonosobo lulus seratus persen. Untuk sekolahnya, dibanding tahun sebelumnya juga mengalami peningakatan prestasi. Karena pada tahun 2013, di Provinsi Jateng menempati ranking 10, tahun ini rangking 3.
“Tahun lalu, kami juga meraih ranking 70 nasional. Nah tahun ini belum ada pengumuman,”katanya.
Parwanto mengatakan, prestasi yang diraih sekolahnya, tak lepas dari kerja sama semua pihak. Di antaranya guru, wali murid, komite sekolah dan para siswa. Menurutnya, tanpa peran aktif semua pihak, prestasi tersebut akan sulit diraih.
“Peran semua pihak ini sangat penting. Karena pendidikan membutuhkan kerja sama,” ujarnya.
Parwanto mencontohkan, dalam mempersiapkan menghadapi ujian nasional, pihaknya beberapa kali melakukan pembinaan kepada siswa dan komunikasi dengan orang tua. Selain itu, menghadapi ujian nasional, khusus siswa kelas IX diberikan tambahan pelajaran bimbingan pelajaran yang akan diujikan dalam unas.
“Penambahan bimbingan pelajaran ini, dilakukan sepekan empat kali. Dengan tiap mata pelajaran dua jam sehari,” imbuhnya.
Sutikno Wakil Kepala Bidang Kesiswaan yang juga guru bimbingan konseling menambahkan, selain bimbingan pelajaran, pihaknya juga menggelar try out secara berjenjang. Model pendekatannya, sebelum unas, para siswa diminta menuliskan target nilai masing-masing pelajaran.
“Siswa wajib menuliskan target nilai yang akan dicapai. Nah target tersebut sebagai media pengingat siswa,” ujarnya.
Untuk mempermudah ingatan siswa terhadap target nilai, kata Sutikno, daftar target yang diisi siswa dipasang di dinding kelas. Harapannya tiap hari siswa bisa termotivasi. Hal ini, juga digunakan sebagai media evaluasi siswa ketika prestasi pendidikannya menurun atau semangat belajarnya menurun.
“Contohnya ketika kami gelar try out, kemudian salah satu siswa hasilnya belum memenuhi target, maka siswa tersebut kami minta melihat target yang ditulis. Dari situ kami berikan konsultasi dan motivasi agar mencapai target,” paparnya.
Sutikno menambahkan, menghadapi unas tahun ini, pihaknya menggelar try out mencapai 8 kali. Pola yang dilakukan, dari 200 siswa, dibagi menjadi sepuluh kelompok. Dari tiap kelompok ini, model pendekatan guru bisa lebih maksimal, karena bisa mengenali satu persatu kemampuan siswa.
“Guru menjadi tempat konsultasi sekaligus motivasi siswa. Melalui pola ini, kemampuan siswa dari hari ke hari bisa diamati,”tegasnya.
Sementara itu, Alvianta Rahchmawati peraih ranking 1 tingkat kabupaten mengatakan, dari empat pelajaran yang diujikan, nilai yang kurang maksimal pada pelajaran bahasa Indonesia, karena dia hanya meraih nilai 9. Sementara itu pelajaran lain bahasa Inggris dapat nilai 10, matematika 10 dan IPA 10.
“Bahasa Indonesia itu bukan ilmu pasti, jadi cukup susah bisa mendapatkan nilai 10,”kata putri pasangan Iswo Prayogo- Sri Aguspeni ini.
Meski begitu, Via demikian intim disapa, mengaku bangga dengan hasil yang didapat. Dia mengaku untuk mempersiapkan ujian nasional, tidak mengikuti bimbingan belajar atau les di luar sekolah.
“Saya tidak ikut les di luar sekolah. Saya mengikuti proses pendidikan di sekolah dan bimbingan pelajaran di sekolah. Selebihnya belajar sendiri di rumah,” pungkas gadis yang bercita-cita jadi dokter spesialis kulit dan kelamin ini. (*/lis)