Penipuan Investasi Seragam Rp 103 M

BARUSARI – Aparat Satreskrim Polrestabes Semarang saat ini fokus untuk menelusuri aset-aset yang dimiliki tersangka penipuan bermodus investasi seragam SD-SMA, Arista Kurniasari, 38 dan suaminya Yohanes Onang Supotiyo, 48, warga Jalan Sri Wibowo Dalam XII/251 RT 8 RW 5, Kembangarum, Semarang Barat. Sejauh ini petugas baru mengamankan dua mobil, yakni Daihatsu Luxio dan Honda Jazz. Kuat dugaan, aset tersangka Arista menyebar mengingat jumlah penipuan yang dilakukan mencapai Rp 103 miliar.
Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto mengatakan, dua tersangka saat ini masih terus menjalani pemeriksaan intensif. Pihaknya sedang menelusuri sejumlah aset milik tersangka yang diduga kuat dibeli dengan menggunakan uang hasil penipuan investasi tersebut. ”Masih kami terlusuri aset tersangka. Sejauh ini baru dua mobil yang diamankan,” katanya kepada Radar Semarang.
Wika menambahkan, tersangka Arista masih mengelak dan tidak mengakui aksi penipuan yang dilakukan. Meski begitu, pihaknya tetap melanjutkan, mengingat ratusan warga yang melaporkan menjadi korban penipuan Arista.
”Kemungkinan korban semakin banyak, kami menunggu jika ada yang merasa tertipu segera melapor,” katanya.
Penelusuran Radar Semarang di rumah Arista di Jalan Sriwibowo Dalam XII/251 RT 8 RW 5, Kembangarum kemarin, terlihat sepi. Di dalam rumah, terlihat seorang perempuan tua mondar-mandir keluar masuk rumah. ”Itu rumah mertua Arista, namanya ibu Edi,” kata seorang tetangga Arista, Raminah.
Ia mengaku terakhir bertemu Arista sejak empat bulan silam. Setelah itu, tidak ada warga yang mengetahui di mana keberadaan Arista dan suaminya. Sedangkan rumah Arista ditempati oleh mertua dan keluarganya.
Sebagai perempuan yang menjajakan sayur di pinggir jalan, ia sebenarnya kerap bertemu Arista. Menurut dia, Arista termasuk perempuan yang tidak banyak omong. ”Ketemunya pas Mbak Arista mau berangkat ngajar. Biasanya berangkat naik motor,” ujarnya.
Raminah dan sejumlah tetangga tidak mengetahui Arista berbisnis investasi batik seragam sekolah SD-SMA. Ia hanya tahu jika Arista menjadi seorang guru PNS di SD.
”Tahunya kerjaannya seorang guru. Tidak tahu kalau ada yang lain,” tambah warga lain.
Sosok Misterius
Kepala SD tempat Arista mengajar, NR, mengaku kaget ketika mendengar salah satu guru di sekolahnya, Arista Kurniasari, diciduk polisi terkait kasus penipuan investasi bodong pengadaan seragam batik.
Saat diemui Radar Semarang, Senin (16/6), NR mengaku, pihaknya tak tahu-menahu soal investasi tersebut. Ia baru tahu saat beberapa investor mencarinya. ”Pada bulan Februari, sudah ada 10 investor yang mendatangi sekolah, menanyakan keberadaan Arista,” tuturnya.
Pada saat itu, menurut penuturan NR, Arista seringkali mangkir dari kewajibannya sebagai pendidik. ”Ia sering izin, alasannya ada urusan keluarga,” katanya.
NR mengungkapkan, Arista merupakan sesosok guru yang misterius bagi dirinya dan guru-guru lainnya di sekolah tersebut. ”Ia memang orangnya tertutup. Kita tidak tahu dia di luar memiliki kegiatan apa, kita tidak ada yang tahu,” ujar NR.
Menurut NR, keseharian Arista di sekolah saat berbaur dengan guru-guru lain di sekolah tersebut, ia merupakan sosok yang pendiam. ”Kalau di sekolah orangnya pendiam. Paling ngomong cuma seperlunya,” katanya.
Sejak 4 Maret 2014, lanjut NR, Arista yang sebelumnya mengajar di kelas 5 sudah tidak pernah datang lagi ke sekolah. Sejak saat itu pula, pihak sekolah memutuskan untuk mencari guru pengganti agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.
Menurut NR, guru SD yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2010 tersebut tidak menunjukkan kehidupan yang glamor. ”Seperti guru yang lain. Berangkat ke sekolah naik sepeda motor,” ujarnya.
Hingga saat ini, NR mengakui, jika kasus ini sudah sampai ke wali murid dan Dinas Pendidikan Kota Semarang. ”Beberapa wali murid memang ada yang sudah bertanya ke pihak sekolah. Kita jawab sepengetahuan kita saja,” katanya.
Beberapa guru di sekolah tersebut ketika dikonfirmasi hanya mengatakan tidak tahu, dan terkesan tertutup. ”Kita tidak ada yang tahu tentang kasus itu,” kata seorang guru di sekolah tersebut ketika dikonfirmasi.
Seperti diberitakan sebelumnya, pasangan suami-istri Arista Kurniasari dan Onang, warga Jalan Sriwibowo Dalam XII/251 RT 8 RW 5, Kembangarum, Semarang Barat diamankan aparat Satreskrim Polrestabes Semarang. Keduanya terlibat aksi penipuan investasi batik seragam SD-SMA di Kota Atlas. Tidak tanggung-tanggung, dari ratusan korban, keduanya meraup uang sekitar Rp 103 miliar. Tidak hanya di Semarang, tersangka Arista juga melakukan aksi serupa di Subang, Jogjakarta, dan Balikpapan. Modusnya dengan menjanjikan keuntungan besar dari berbisnis investasi batik dan alat tulis kantor (ATK). Kini, pasutri tersebut masih mendekam sel tahanan Polrestabes Semarang. Keduanya akan dijerat pasal 3, 4 dan 5, UU No 8 Tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan ancaman hukuman 20 tahun dan denda Rp 10 miliar. (fth/aro/ce1)