Klaim Pencegah Kanker, Akan Dipatenkan

106

Tiga Mahasiswi FKM Undip Produksi Kuliner Wingket Item

Maraknya peredaran makanan ringan yang mengandung zat berbahaya dan dapat mengganggu kesehatan tubuh, membuat Regita Damayanti Saputri termotivasi menciptakan makanan yang menyehatkan. Salah satu makanan kreasinya adalah Wingket Item. Seperti apa?

M. RIZAL KURNIAWAN

WINGKET Item adalah kependekan dari wingko ketan hitam. Wingko merupakan salah satu makanan khas Kota Semarang, terbuat dari beras ketan putih, kelapa, gula, dan perasa. Makanan tersebut sangat mudah dijumpai di setiap sudut Kota Atlas. Bahkan di kota lain pun juga ada.
Jika dilihat dari bentuk dan rasanya, wingko buatan Regita Damayanti Saputri tidak jauh berbeda dengan wingko hasil olahan yang dipasarkan di toko oleh-oleh. Yang berbeda adalah warna hitam dalam daging wingko. Biasanya untuk membuat wingko bahan dasar yang dipakai adalah ketan putih.
Nah, gadis kelahiran Tawangmangu, Karanganyar pada 1994 lalu itu mencoba memakai ketan hitam. Karena setelah melakukan uji zat yang terkandung, ketan hitam mengandung serat dan neoksida tinggi dibanding ketan putih. Antioksidan yang terkandung di dalamnya mampu mencegah penyakit kanker.
”Selain itu, kalau aku lihat, tidak banyak orang yang suka ketan hitam. Makanya di sini aku mencoba mengolah ketan hitam biar disukai,” kata mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) ini.
Bersama dua temannya, yakni Dinda Rachma dan Rani Widya Prananingrum, ia pun mencari jenis olahan yang cocok untuk ketan hitam. Dari sekian banyak makanan kecil, akhirnya dipilihlah wingko. Regita dan dua kawannya pun mencoba mencari resep dan cara mengolah wingko. Salah satu pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran menjadi tempat studi banding wingko buatannya. Gadis yang berulang tahun setiap tanggal 5 Juli itu pun tak segan bertanya kepada pembuat wingko di toko oleh-oleh tersebut.
”Bapaknya yang membuat wingko itu ternyata baik, mau memberitahu resep dan mengajari cara membuatnya. Karena wingko ini dianggap sebagai makanan tradisional yang harus dilestarikan,” kata mahasiswa semester 4 ini.
Setelah mendapat ilmu cara membuat wingko, Regita dkk pun mempraktikkan. Bedanya, bahan dasar yang digunakan adalah ketan hitam, tidak lagi ketan putih.
”Awal buat memang memakai ketan putih, tapi saya dan teman-teman sering makan di warung burjo (bubur kacang hijau). Di situ saya melihat campuran ketan hitam. Kemudian terpikir kenapa tidak mencoba wingko dengan ketan hitam. Karena secara kandungan gizi kita tahu kalau ketan mengandung serat dan antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker,” ujarnya.
Meski telah mendapat ilmu dari pengusaha wingko di Jalan Pandanaran, dalam proses pembutannya, Regita dkk sempat mengalami kegagalan, wingko terlalu lembek. Karena adonan tidak pas.
”Kita terus coba dan terus coba sampai berhasil. Dan akhirnya kita menemukan komposisi yang pas. Produksi awal kita buat dua varian rasa, yakni cokelat dan original,” katanya.
Merasa sudah pede (percaya diri) dengan hasil kreasinya, Wingket Item, Regita dkk memberanikan diri memasarkan ke lingkungan kampus. Hasilnya, banyak yang suka. Melihat animo konsumen yang semakin banyak, mereka berencana mematenkan Wingket Item dan mencoba memasarkan ke khalayak yang lebih luas.
”Setelah kita patenkan melalui uji gizi PIRT (Produk Industri Rumah Tangga), kita akan pasarkan ke daerah-daerah. Semoga makanan ini bisa diterima di kalangan masyarakat luas. Karena makanan ini menyehatkan, mengandung antioksidan pencegah penyakit kanker,” tandasnya. (*/aro/ce1)