Dibuka Lagi, Jaring Pelanggar Muatan

153

MUNGKID — Jembatan timbang (JT) di perbatasan Jawa Tengah – Jogjakarta— tepatnya di Kecamatan Salam—kembali dibuka setelah sempat ditutup selama 15 hari.
Kemarin, sejumlah sopir bus langsung terjaring razia pelanggaran muatan. Pantauan koran ini, sekitar lima petugas JT, tampak sibuk menjalankan tugas masing-masing. Mengurus administrasi, mengatur lalu lintas, dan mengecek muatan angkutan barang yang keluar masuk. Beberapa awak angkutan barang yang terbukti melanggar tonase, diberi surat tilang (tilang).     
Salah seorang sopir yang terjaring razia adalah Guntoro, 35. Sopir truk ini memuat paving block dari Muntilan ke wilayah Surakarta. Dia ditilang karena melanggar batas muatan.     
Namun, banyak angkutan barang yang ”dilepas”, karena sudah terkena tilang di tempat lain. Atau, dianggap tidak melanggar aturan alias masih dalam batas toleransi.     
Ketika ditanya, petugas enggan memberi keterangan. Alasannya, hal itu merupakan wewenang pimpinan. ”Kami hanya menjalankan tugas sejak jembatan timbang ini dioperasikan lagi 9 Juni lalu. Untuk konfirmasi, silakan temui pimpinan,” kata mereka, kompak.     
Sementara itu, Kepala Unit Pelayanan Perhubungan (UPP) Wilayah Magelang Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, Heri Prayitno, belum bisa dimintai konfirmasi soal beroperasinya JT Salam. Beberapa kali dihubungi, HP-nya sedang tidak aktif.     
Seperti diketahui, Pemprov Jateng menutup seluruh JT di Jateng yang tersebar di 16 titik, per 19 Mei 2014. Kebijakan itu berlaku pasca-temuan pungutan liar (pungli) dalam inspeksi mendadak (sidak) oleh Gubernur Ganjar Pranowo di jembatan timbang Subah, Batang, pada 27 April lalu.
Namun, dalam sepekan terakhir, Pemprov Jateng mengoperasikan lagi JT yang berada di tujuh titik. Antara lain, JT Salam (Magelang), JT Toyogo-Sembungmacan (Sragen), JT Tanjung (Brebes), Sambong (Blora), Sarang (Rembang), Aji Barang (Purwokerto), dan Wanareja (Cilacap). (vie/lis/ce1)