BARUSARI – Kasus penipuan dengan modus umrah dan haji di Jawa Tengah berhasil dibongkar jajaran Ditreskrimmum Polda Jawa Tengah. Dalam kasus itu, pimpinan PT Multazam Tour Jasa Umrah dan Haji, Zainal Arifin, warga Demak, ditetapkan tersangka dan sudah mendekam di balik jeruji besi. Korban penipuan yang telah tercatat di kepolisian mencapai 380 orang dengan total kerugian Rp 2,3 miliar.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Purwadi Ariawan mengatakan, kasus ini terbongkar setelah sejumlah korban melapor ke Polda Jawa Tengah. Korban mengaku sudah membayar biaya umrah dan haji tapi oleh tersangka tidak diberangkatkan. ”Setelah ditelusuri ternyata ini penipuan. Uang nasabah justru digunakan sendiri,” katanya.

Tersangka sangat profesional dalam menjalankan bisnis penipuannya tersebut. Untuk menarik nasabah, tersangka menggandeng sejumlah tokoh masyarakat dan sejumlah ustad. Lewat sejumlah kegiatan pengajian, akhirnya didapatkan nasabah yang hendak berangkat melalui biro jasa yang beralamat di Jalan Raya Badungrejo No 12 Mranggen, Demak ini. ”Jika normal sekitar Rp 21 juta sampai 25 juta, tapi tersangka hanya memasang biaya Rp 8 juta sampai Rp 18 juta. Jadi banyak yang tertarik,” imbuhnya.

Untuk meyakinkan nasabah, tersangka melalui PT Multazam Tour sudah memberangkatkan puluhan nasabah. Tersangka juga meyakinkan, jika kekurangan biaya ditanggung perusahaan yang menggeluti bisnis properti. Ratusan nasabah bahkan sudah mendaftar. Mulai dari Demak, Kudus, Semarang, Kendal, Sragen, Kebumen, Salatiga serta Ungaran. ”Begitu korban melapor, tersangka sempat kabur dan buron selama beberapa bulan di Papua. Saat kembali pulang ke rumah, langsung kami tangkap,” tambahnya.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Alloysius Lilek Darmanto mengatakan, penipuan umrah dan haji merupakan modus lama. Rata-rata korban tergiur dengan biaya murah dibandingkan dengan biaya resmi. ”Ini yang harus diwaspadai. Jangan mudah percaya, apalagi jika biaya terpaut jauh dengan yang resmi,” katanya.

Lilek pun memastikan jika perusahaan milik tersangka tidak terdaftar di Kementerian Agama RI. Artinya perusahaan ilegal dan pemberangkatan jamaah dari biro tidak resmi. ”Kami masih mengembangkan kasus ini. Kuat dugaan korban masih banyak,” tambahnya.

Tersangka saat ini sudah mendekam di balik jeruji besi Mapolda Jawa Tengah. Tersangka dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman lima tahun. (fth/ton/ce1)