Pungutan SMA 1, Diduga Rp 4 Juta

190

Dewan Dapat Laporan

SALATIGA—Kalangan dewan prihatin, masih adanya pungutan kepada siswa baru. Mereka meminta kepada Dinas Pendidikan Pemkot Salatiga untuk tegas dan memberikan sanksi kepada sekolah yang melakukannya.
Lontaran itu mencuat setelah dewan mendapatkan laporan mengenai adanya pungutan kepada siswa baru di SMA Negeri 1 Salatiga. Pungutan itu ditujukan kepada siswa baru yang masuk program Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI), terbagi dalam program akselerasi (kemampuan lulus 2 tahun) dan program pengayaan (siswa berbakat mengembangkan bidang sains, sosial, dan humaniora).
“Kami mendapatkan laporan dari masyarakat mengenai pungutan siswa baru dari SMA 1 yang besarannya mencapai Rp 4 juta lebih. Kami akan mengklarifikasi hal tersebut untuk mempertanyakan mekanisme pendaftaran dan sebagainya,” kata Sekretaris Komisi I DPRD Salatiga, Septa Maya Hidayati, kemarin.
Ia menyatakan, harus ada penjelasan mengenai penarikan tersebut dan dirinya yakin jika itu sudah diketahui oleh komite sekolah. “Selain itu, masih terdengar suara disharmoni dari SMA 1. Maka perlu dinas pendidikan untuk mencari solusi agar sekolah bisa kondusif dan berjalan dengan baik demi kepentingan siswa,” imbuh dia.
Hal senada diungkapkan anggota Komisi I DPRD Salatiga lainnya, Suniprat. Ia menyatakan, jika ada penarikan tanpa koordinasi, melanggar regulasi dan dilakukan sepihak maka itu adalah pungutan liar. “Kalau seperti itu, artinya liar. Maka dinas pendidikan harus melakukan tindakan agar sekolah mentaati semua regulasi yang berlaku,” tandas Suniprat, kemarin.
Salah satu wali siswa yang mengikuti seleksi menuturkan, memang telah diberitahu mengenai teknis pembayaran. “Memang bisa diangsur. Selain itu juga telah membayar psikotes Rp 150 ribu,” imbuh orang yang tidak mau disebutkan namanya
Dari informasi yang diperoleh, SMA 1 Salatiga menerima sebanyak 220 siswa yang lolos program CIBI, terbagi dalam program akselerasi (kemampuan lulus 2 tahun) dan program pengayaan (siswa berbakat mengembangkan bidang sains, sosial, dan humaniora).
Pihak sekolah sendiri belum bisa dimintai konfirmasi. Kepala sekolah Wahyu Tri Astuti saat dihubungi nomer telepon genggamnya dan dikirimi pesan singkat tidak ada jawaban. (sas/ida)