KAJEN-Sebagian besar petani miskin yang tidak punya lahan di Desa Lambang Gelun, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, mulai mendapatkan penghasilan. Mereka memanfaatkan 20 hektare lahan tidur dengan menanami pohon pinus penghasil gondorukem.
“Semula warga merasa takut, karena lahan tersebut bukan miliknya. Namun, setelah dibentuk kelompok tani dan mendapatkan izin, akhirnya warga menanaminya dengan pohon pinus,” kata Rasmuji, 42, warga Desa Lambang Gelun.
Menurutnya, setelah dibentuk kelompok tani, warga akhirnya mendapatkan bantuan bibit pohon dari Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, Kabupaten Pekalongan. Selain itu, setiap kelompok yang terdiri atas 20 orang, dibina pemerintah agar tidak berebut lahan. ”Selain mendapatkan bantuan ribuan bibit pohon, petani juga mendapat bantuan alat pengolahan gondorukem,” kata Rasmuji.
Ketua Kelompok Tani Pinus, Desa Lembang Gelun, Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Hadi Winarno, menjelaskan bahwa selama ini kelompoknya yang beranggotakan 20 orang, hanya melakukan penanaman di lahan-lahan terbatas. Yakni, dari lahan yang ditanami pohon pinus selama puluhan tahun, setiap bulan hasilnya hanya bisa menghasilkan 4 kuintal getah pinus. Kemudian, getah pinus diolah menjadi 3 kuintal gondorukem, yang dijual ke tengkulak dengan harga Rp 22.500 per kilogram.
“Sekarang kami sudah lebih mudah, karena ada bantuan alat pengolahan gondorukem. Dengan begitu, tengkulak langsung datang ke perkebunan dan membeli gondorukem secara langsung kepada kami. Hasilnya tidak menunggu lama dan harganya lebih baik,” jelas Hadi. (thd/ida)