BALAI KOTA – Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang menilai, penyelenggaraan dugderan kurang kreatif. Kegiatan itu hanya berorientasi untuk mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD) tetapi kurang memperhatikan kualitas. Tradisi menyambut bulan Ramadan ini seharusnya tidak dikelola oleh PNS, tapi oleh pihak swasta yang berkompeten.
Anggota DP2K Semarang, Joko Setijowarno mengatakan, tak banyak inovasi positif jika dugderan dikelola oleh PNS. Kebiasaan mereka adalah sebagai regulator, bukan operator. Sehingga seharusnya pengelolaan dugderan diserahkan pada swasta yang memiliki kompetensi. ”Dugderan jika dikemas kreatif dapat menjadi objek andalan wisata Kota Semarang. Namun Pemkot Semarang sangat minim kreativitas,” katanya kemarin.
Jangankan pelancong yang mau datang, menurutnya warga Semarang saja tidak tertarik dengan dugderan tersebut. Karena kumuh, kotor, dan tidak aman, itu adalah kesan yang ada ketika menengok dugderan. Di lokasi kegiatan juga tidak tersedia sarana toilet mobile.
Menurut Joko, sebenarnya banyak komunitas, kalangan swasta, dan akademisi dari perguruan tinggi yang bisa diajak diskusi menciptakan kreativitas dalam mengemas dugderan, sehingga menjadi daya tarik pelancong. Sebab sangat disayangkan, pejabat yang mengelolanya minim kreativitas, yaitu masih berpikir primitif sekadar ada acara dugderan. ”Saya juga tak yakin semua pemasukan masuk kas daerah, pasti banyak juga yang masuk kas pribadi,” ujarnya.
Dikatakan, dugderan kreatif dapat menjadi daya tarik pelancong dan menjadi trade mark Kota Semarang. Seperti halnya beberapa festival di kota lain yang sebenarnya baru dibuat tapi sudah mendatangkan turis, seperti festival Braga di Bandung, Pasar Rakyat Monas di Jakarta. ”Jadikan dugderan lebih modern, pelancong pasti datang, PAD pasti meningkat. Ini soal kemasan saja,” tegasnya.
Dia menambahkan, kegiatan dugderan yang digelar di Jalan Pemuda juga seharusnya tidak dilakukan. Jalan tersebut jalan utama, sehingga semestinya tidak ada gangguan untuk kelancaran lalu lintas. Toko-toko di sepanjang Jalan Pemuda menjadi tidak laku, karena tertutupi aktivitas dagangan dugderan. ”Dugderan cukup di sepanjang Jalan Agus Salim. Terlebih barang dagangan yang ditawarkan dari tahun ke tahun itu-itu saja, hanya sekadar memindahkan keramaian pasar tiban di desa ke kota,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko menyatakan, tujuan utama kegiatan dugderan adalah nguri-uri tradisi Kota Semarang dalam menyambut bulan suci Ramadan. Dan sebagai fasilitas hiburan untuk masyarakat Kota Semarang. (zal/ric/ce1)