Mapel Bahasa Jawa Diwajibkan

397

SEMARANG TENGAH-Guru Bahasa Daerah maupun mahasiswa Sastra Daerah tidak perlu risau, terkait nasib pelajaran Bahasa Daerah pada pelaksanaan kurikulum 2013 di Jateng. Pasalnya, Jateng telah menetapkan Bahasa Daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib minimal dua jam dalam satu minggu.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2012 tentang Pembinaan Pemeliharan dan perlindungan Bahasa dan Aksara Jawa, semua sekolah wajib menjadikan Bahasa Daerah menjadi muatan lokal.
“Nantinya pelaksanaan mata pelajaran bahasa Jawa di setiap sekolah SMP dan SMA wajib dilaksanakan,” jelas Ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Jawa, Yuyun Dian, saat ditemui Radar Semarang, Sabtu (14/6).
Masuknya mata pelajaran bahasa Jawa ke dalam kurikulum 2013, menurut Yuyun, menunjukkan bahasa Jawa tidak lagi dipandang menjadi mapel pelengkap dari mapel-mapel lain. “Setidaknya bahasa Jawa sudah memiliki ruang yang jelas, yang dulunya mengambang dan tidak jelas juntrungnya,” ujar Guru mapel bahasa Jawa di SMA N 5 Semarang ini. Untuk pelaksanaannya, lanjut Yuyun, akan dilakukan serempak pada tahun ajaran baru 2014-2015.
Terpisah, senada dengan Yuyun, Purwadi yang juga guru mapel bahasa Jawa di SMA Kesatrian 2 mengatakan, dimasukkannya bahasa Jawa ke dalam kurikulum 2013 sangat tepat. Menurutnya, mapel bahasa Jawa yang notabene syarat akan pendidikan tata karma sangat tepat untuk membangun karakter bangsa. “Dengan bahasa Jawa, penanaman pendidikan karakter di setiap siswa semakin sempurna. Mengingat generasi sekarang yang jauh dari unggah-ungguh,” kata Purwadi.
Setelah masuknya mapel bahasa Jawa ke dalam kurikulum 2013, pelaksanaan di setiap sekolahan nantinya minimal 2 jam dalam seminggu dari jenjang SD hingga SMA sederajad. “Dengan begitu para guru dan  mahasiswa Sastra Daerah tidak perlu risau, karena pelajaran Bahasa Daerah bukan sekedar menjadi sisipan pada kurikulum 2013, tapi masuk menjadi mata pelajaran muatan lokal wajib,” kata Purwadi. Sebelumnya memang muncul keresahan para guru hingga mahasiswa Sastra Daerah terkait minimnya porsi pelajaran Bahasa Daerah yang hanya sekedar menjadi sisipan. (mg1/ida)