Kualitas Guru Masih Rendah

103

WONOSOBO – Kualitas pendidik atau guru di Indonesia belum memenuhi harapan. Karena itu, para guru didorong terus untuk belajar, meningkatkan kualitas diri dalam mengajar.
”Tingginya angka impor barang Indonesia serta banyaknya mahasiswa Indonesia yang sekolah ke luar negeri, menjadi salah satu indikasi rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yang secara tidak langsung juga berkorelasi dengan kualitas guru,” kata Ketua PGRI Nasional, Sulistiyo, usai meresmikan aula gedung PGRI Wonosobo, Sabtu (14/6) lalu.
Sulistiyo mengatakan, terkait masalah tersebut, pihaknya berharap munculnya tunjangan profesi melalui sertifikasi guru, bisa meningkatkan kapasitas dan profesionalisme guru untuk mendukung keberhasilan pembangunan mutu pendidikan.
”Pendidikan yang berkualitas akan berkorelasi dengan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia lainnya. Artinya tak hanya sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa saja, tapi juga melindungi segenap bangsa Indonesia,” katanya.
Mantan Rektor IKIP PGRI (sekarang Universitas PGRI) Semarang itu berpendapat, pendidikan di Indonesia saat ini belum berkorelasi dengan program pembangunan lainnya. Sehingga belum bisa muncul sebagai bangsa mandiri, dengan SDM (sumber daya manusia) yang berkarakter. Termasuk, belum mampunya SDM Indonesia mengelola kekayaan alam.
”Kami secara intens, kami terus mendorong pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional agar dalam penyusunan program dan renstranya bisa mengakomodasi kebutuhan pendidikan yang berkualitas.”
Untuk mengoptimalkan kualitas guru, kata Sulistiyo, perlu mendorong peraturan perundangan tentang pola reward and punishment yang tepat bagi guru berprestasi atau bermasalah. Harapannya, bisa mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
”Termasuk, percepatan revisi PP 74 Tahun 2008 yang bertujuan agar jumlah jam tatap muka selama 24 jam segera diterapkan ke dalam beberapa tugas guru, baik guru wali kelas, guru piket, pembina OSIS dan guru-guru bidang lainnya,” tandasnya.
Menyinggung pilpres, Sulistiyo berharap, dalam rona politik yang sangat dinamis, PGRI harus tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen dan tidak berpolitik praktis. (lis/lis/ce1)