TEMANGGUNG — Petani tembakau di lereng Gunung Sumbing, Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, menggelar ritual sadranan di kompleks pemakaman desa. Kegiatan itu untuk menghormati arwah nenek moyang, sekaligus berdoa agar pilpres 2014 berjalan damai dan terpilih pemimpin yang pro petani tembakau.
Sekitar seribuan warga, memadati kompleks makam yang berada di ketinggian 1.400 di atas permukaan laut (dpl). Banyaknya warga, memaksa sebagian harus duduk di luar kompleks makam. Namun, mereka tetap khusyuk mengikuti rangkaian demi rangkaian.
Mereka membawa tenong, yakni wadah bundar dari anyaman bambu. Isinya, nasi bucu atau nasi tumpeng, ayam ingkung, tempe bacem, sayuran, buah-buahan, dan kerupuk. Juga dan jajan pasar seperti wajik, jadah, trasikan, bolu, biskuit, jenang dan masih banyak lagi ragam makanan lainnya.
Tahun ini, tidak kurang dari 550 tenongan dibawa warga. Seluruh warga yang hadir mencapai ribuan. Selain warga Jetis, warga desa dan kabupaten sekitar yang ingin ngalap berkah juga hadir.
Setelah tahlilan dan doa bersama, warga menyantap makanan di tenong. Sebagian diberikan kepada panitia untuk dikelola. Jatah yang diberikan kepada panitia, selanjutnya dibagikan kepada para tamu undangan, aparat, dan unsur pemerintahan desa. Juga dan masyarakat luar desa yang datang untuk turut berdoa.
Sekretaris Desa Jetis Sri Slamet mengatakan, sadranan untuk meminta ampunan dan keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa. Nyadran menjadi ritual tahunan, diselenggarakan tiap Jumat pada tengah bulan Ruwah. Ritual itu sebagai persiapan sebelum memasuki Ramadan. ”Khusus tahun ini, kami juga berdoa agar pilpres berjalan damai dan terpilih pemimpin yang pro petani tembakau,” katanya.
Dikatakan, makanan dan sedekah uang yang dibawa warga sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih warga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang selama ini telah memberi karunia berupa keadaan alam yang subur, sehingga kebutuhan hidup dan makan sehari-hari terpenuhi. (zah/lis/ce1)