Mahasiswi Untag Semarang Diculik

162

Lolos, setelah Loncat dari Mobil

UNGARAN – Seorang mahasiswi semester dua Fakultas Ekonomi, Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, Alfin Nikmatul, 19, warga Kalirejo, Ungaran nyaris menjadi korban penculikan tiga orang lelaki tak dikenal. Beruntung, korban berhasil meloncat keluar dari mobil pelaku, saat mobil terjebak kemacetan karena adanya perbaikan jalan di kawasan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Korban kemudian ditolong warga dan dijemput oleh keluarganya. Hingga kemarin, korban masih trauma, sehingga tidak bisa ditemui wartawan. Keluarga juga menititipkan korban di rumah saudaranya di kawasan Jatirunggi, Pringapus, Kabupaten Semarang untuk mengurangi rasa traumanya.
Ayah korban, Solihin, 46, mengatakan, peristiwa penculikan yang dialami anaknya sudah terjadi dua kali. Awalnya, Selasa (10/6) sekitar pukul 07.00 korban disergap dua orang lelaki saat akan pindah angkutan umum di kawasan Babadan, Ungaran. Korban berhasil lolos karena berlari dan langsung masuk angkutan umum menuju Semarang. Kebetulan korban setiap kali berangkat ke kampus menggunakan angkutan umum.
Percobaan penculikan kembali dialami korban Rabu (11/6) pagi. Ketika itu, korban berangkat kuliah menggunakan angkutan umum. Sesampainya di Jatingaleh, Semarang, korban turun untuk oper angkutan ke arah Sampangan menuju ke kampus Untag. Diduga pelaku sudah menguntitnya, sebab begitu korban turun, dua orang pelaku langsung menyergapnya dan menyeret korban masuk ke dalam mobil Suzuki Carry.
”Pelakunya tiga orang, tetapi di dalam mobil sudah ada satu orang yang siap pegang kemudi. Sebenarnya ada tukang ojek yang sempat mengejar, setelah tahu Alfin diseret-seret. Tetapi, mobil langsung tancap gas masuk jalan tol, jadi tidak terkejar,” tutur Solihin, Jumat (13/6) pagi kemarin ditemui di tempat kerjanya sebaga juru parkir di Ungaran.
Selama dalam perjalanan korban hanya bisa SMS ke nomor handphone kakak sepupunya, Bekti Sulastri. Dalam pesan SMS itupun hanya singkat saja, ”Mbak aku tulungi.”
Selanjutnya Bekti menghubungi orang tua korban, Solihin, yang kemudian melakukan pelacakan, tetapi tidak berhasil ditemukan. Sebab, nomor handphone korban tidak dapat dihubungi kembali.
Belakangan diketahui Alfin dibawa sampai di kawasan Banyubiru. Korban memanfaatkan kesempatan saat mobil antre berjalan karena ada perbaikan jalan. Kebetulan korban kerap berlatih beladiri silat Naga Hitam, sehingga mampu memberikan perlawanan. Seketika itu, korban melompat dari mobil dan berlari menuju perkampungan, sedangkan pelaku yang ketakutan akhirnya kabur.
”Anak saya ditolong orang yang kebetulan ada di sana, dibawa ke SD Brongkol. Kemudian anak saya menelepon meminta dijemput di sana. Kami selanjutnya menjemputnya, dan kami titipkan di rumah neneknya di Pringapus,” tutur Solihin.
Menurut Solihin, anaknya masih merasa ketakutan, sehingga tidak lagi berangkat kuliah. Korban juga ditempatkan di rumah kakeknya untuk menghindari dari seringnya bertemunya dengan orang. Sebab, korban masih trauma jika bertemu orang asing. Kasus tersebut sengaja tidak dilaporkan ke kepolisian. Sebab, korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.
”Kami tidak melapor, karena anak saya sudah selamat. Terus kalau lapor saya repot harus bolak-balik ke kantor polisi itu butuh biaya banyak. Sedangkan saya repot ngurus pekerjaan sebagai tukang parkir. Kalau ke kantor polisi terus kapan kerjanya,” ujar Solihin.
Solihin dan keluarganya tidak tahu kenapa anaknya menjadi sasaran penculik. Hingga saat ini pihaknya juga masih mencoba-coba mencari tahu motif penculikan tersebut. ”Saya tidak tahu kenapa anak saya jadi sasaran penculikan. Tapi biarlah, yang penting anak saya selamat,” pungkasnya. (tyo/aro/ce1)