Nursahid, Siswa Tunarungu yang Jago Melukis

Usia Nursahid baru menginjak 12 tahun. Meski begitu, siswa Sekolah Dasar Luar Biasa (SD-LB) Karya Bhakti Don Bosco Wonosobo itu, sudah meraih prestasi nasional. Seperti apa?

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

NURSAID saat ini duduk di bangku kelas 2 SD-LB Karya Bhakti Don Bosco Wonosobo. Seperti lazimnya siswa SD, Sahid— begitu ia kerap disapa— suka bermain.
Ketika Jawa Pos Radar Kedu mengunjungi sekolahnya untuk diwawancarai, Sahid sesekali bangkit dari kursi kemudian jalan dan melihat beberapa foto di ruang tamu sekolah itu.
Namun, saat ditanya mengenai karya lukisan, anak tunarungu itu, dengan cekatan, langsung mengambil beberapa lukisan torehan tangannya. Dengan lincah, dia membuka lembaran-lembaran lukisan karyanya.
”Sahid ini punya imajinasi yang kuat. Dia sudah mampu menggambar bentuk, menggambar alam dan menggambar cerita,” kata Edi Sriyatno, guru seni budaya dan guru lukis SD-LB Don Bosco.
Sahid mengaku sudah suka melukis dan menggambar sejak sekolah persiapan 3. Yakni, fase pendidikan sekolah di SD-LB sejenis TK besar.
Berkat kemampuannya melukis, pada 2013, Sahid ditunjuk untuk mewakili sekolah, mengikuti ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Hasilnya, ia lolos menjadi juara I. Pada bulan berikutnya, mewakili Kabupaten Wonosobo, Sahid melaju ke FLS2N tingkat Jateng. Lagi-lagi, Sahid merebut juara I.
Ketika maju ke tingkat nasional, Sahid pun menyabet predikat jawara I nasional.
Hingga kini, putra pasangan Mustofa-Endang itu terus mengasah kemampuannya melukis. Ia juga mempersiapkan diri untuk meraih juara nasional setelah masuk SMP-LB beberapa tahun mendatang.
”Karena setelah meraih kejuaraan tahun lalu, tidak diperbolehkan lagi ikut FLS2N, menunggu setelah SMP,” kata Edi Sriyatno.
Kesuksesan yang diraih oleh Nursahid, tidak lepas dari peran Edi Sriyatno, sebagai guru seni budaya. Dengan telaten, dia membina dan melatih para siswa tunarungu agar mampu mengasah imajinasinya.
”Ya, kalau diperbandingkan dengan anak yang tidak tunarungu, bebannya satu banding tiga.”
Edi mencontohkan, dalam melatih melukis, anak-anak dikenalkan objek, bentuk, sekaligus pewarnaan. Untuk mengenalkan objek, Edi harus menunjukkan sejumlah benda, sekaligus menjelaskan fungsinya. Kemudian digoreskan dalam bentuk dan pewarnaan.
”Untuk mengenalkan warna tidak mudah, misalnya saja warna yang terang, yang pekat dan atau yang sedang. Saat membubuhkan pastel, saya harus memberikan contoh ketiganya.”
Untuk karya Nursahid yang memenangi juara nasional, Edi menunjukkan contohnya. Gambar karyanya itu berupa pesan Bhinneka Tunggal Ika. Pada lukisan itu, terdapat objek manusia yang mengenakan berbagai baju khas daerah di Indonesia yang berdiri berderet. Kemudian, latar belakangnya berupa bangunan tempat ibadah beberapa agama di Indonesia.
”Lukisan Bhinneka Tunggal Ika ini mampu mengalahkan lukisan lain dari perwakilan di Indonesia,” katanya.
Dengan ketelatenannya, Edi tergolong sukses sebagai guru lukis SD-LB. Sebab, hingga saat ini, sudah lima kali mampu mengantarkan siswanya meraih juara nasional.
”Saya pernah diminta datang ke Jakarta untuk menjelaskan pola pengajaran, karena Alhamdulillah lima siswa kami dalam tiap tahun mampu meraih juara nasional.” (*/lis/ce1)