Candi Borobudur ”Digoyang Gempa”

116

MUNGKID – Masyarakat di sekitar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin, dikagetkan dengan gempa. Gempa yang disebabkan letusan Gunung Merapi, mengakibatkan masyarakat setempat panik. Beruntung, warga bisa mengatasi kepanikan, dengan melakukan hal-hal yang pernah diajarkan oleh Pemkab setempat. Hasilnya, tak ada korban jiwa. Evakuasi warga pun lancar.
Ya, pemandangan seperti gambaran di atas bukan kejadian sungguhan. Lebih tepatnya, cuma simulasi tanggap bencana gempa di sekitar Candi Borobudur.
Kegiatan serupa pernah dilakukan pada 2012 silam. Sedangkan pada 2013, simulasi serupa dilakukan di Candi Mendut. Sekitar 200 orang terlibat dalam simulasi tersebut. Termasuk, mengikutsertakan masyarakat sekitar candi. Tujuannya, menyiapkan masyarakat untuk tanggap bencana dan punya rasa kepedulian terhadap sesama. Kegiatan tersebut juga menggandeng tim search and rescue (SAR) dan LSM.
Simulasi dilakukan, karena keberadaan Candi Borobudur berada di daerah rawan bencana. Penyelenggara kegiatan adalah Balai Konservasi Borobudur dan PT Taman Wisata Candi Borobudur.
”Kami hanya menggunakan sebelah barat saja, kalau semua digunakan, maka akan mengganggu pengunjung yang ada di lokasi,” kata Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB), Marsis Sutopo.
Simulasi merupakan bentuk kegiatan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dalam penanganan bencana gempa bumi. Utamanya, di situs cagar budaya dan warisan dunia.
”Sejauh ini, masyarakat membantu dengan spontan. Harapannya, setelah mengikuti simulasi ini, masyarakat bisa berperan aktif jika ada bencana,” katanya.
Sutopo menambahkan, BKB selalu tanggap jika terjadi bencana alam. Semisal, saat terjadi gempa Sukabumi yang terasa getarannya hingga ke wilayah Magelang. Ketika itu, pihaknya langsung melakukan pengukuran pergesaran candi dengan alat inklinometer.
”Alat itu digunakan untuk mengukur pergeseran vertikal dan crack untuk monitoring keretakan,” ucap Sutopo kepada Jawa Pos Radar Kedu.
Tujuan lain, untuk memberikan gambaran kepada pengunjung bahwa penanggulangan gempa ada standard operating procedure (SOP)-nya. Untuk korban luka ringan, misalnya, diberi tanda pita kuning. Lka berat, diberi pita merah. Sedangkan pita hitam, korban meninggal. ”Selain itu, biar pengunjung juga tahu bahwa jika ada bencana maka ada SOP dalam penanganannya,” ujarnya. (mg4/lis/ce1)