WONOSOBO – Penderita demam berdarah di sejumlah kecamatan di Wonosobo terus meningkat. Tercatat, hingga 11 Juni, ada 147 kasus warga terserang penyakit DBD dan DD.
Terbanyak, di wilayah Kecamatan Wonosobo dan Kecamatan Selomerto. Masyarakat Wonosobo diminta waspada terhadap ancaman penyakit  demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD).
Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Jaelan, membeber, hingga 11 Juni, jumlah kasus demam dengue atau tanpa manifestasi pendarahan mencapai 128 kasus.  Sedangkan DBD, dengan manifestasi pendarahan tercatat 19 kasus. ”Jumlah kasusnya memasuki Juni ini meningkat drastis.”
Pria yang akrab disapa Jay ini menjelaskan, dari jumlah kasus tersebut, terbanyak di wilayah Kecamatan Wonosobo. Jumlah kasus demam dengue menyerang 22 orang, dan  demam berdarah dengue 9 orang.
Di wilayah Kecamatan Selomerto, kasus DD sebanyak 43 orang dan DBD 1 orang. Menyusul berikutnya, wilayah Kecamatan Leksono DD 19 orang, DBD 4 orang.
”Sisanya, kasus menyebar di beberapa kecamatan. Tiga kecamatan tersebut masuk tertinggi kasus DBD dan DD,” katanya.
Berdasarkan penelitian, Wonosobo bukan merupakan wilayah endemik DBD dan DD. Sebagian besar kasus ini karena impor dari daerah lain.
”Yang dimaksud impor, misalnya saja warga Wonosobo berkunjung ke daerah lain yang masuk kategori endemik, kemudian terserang di sana dan pulang namun tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara dini,” paparnya.
Dengan kasus ini, Jay meminta masyarakat Wonosobo untuk waspada. Sebab, jenis penyakit ini seperti siklus lima tahunan menyerang Wonosobo. Dia menyebut, pada 2009, jumlah kasus DBD cukup tinggi.
”Ini siklus lima tahunan dan sering sekali terjadi pada bulan Juni,” katanya. (ali/lis/ce1)