KONI Serahkan Pengelolaan Dana Langsung ke Cabor

148

SEMARANG – Tak kunjung cairnya dana hibah untuk KONI Jawa Tengah, membuat para pengurus KONI Jateng patah arang. Merasa tidak dipercaya lagi dalam mengurus keuangan terkait pembinaan olahraga di Jawa Tengah, KONI Jawa Tengah akan melempar pengelolaan dana hibah tersebut langsung pengprov cabor-cabor.
Plt Ketua Umum KONI Jateng Hartono mengatakan, pada tahun 2015, KONI Jateng akan memberikan kewenangan kepada semua pengprov untuk mengelola dana hibah pembinaan olahraga untuk persiapan menghadapi babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX. Program yang bisa disusun oleh pengprov meliputi kegiatan kejurda, pengiriman atlet kejurnas, try out, sertifikasi wasit/pelatih nasional dan internasional serta perekrutan pelatih nasional dan internasional.
”Tahun depan untuk persiapan Pra-PON, silakan pengprov menyusun anggarannya sendiri. Jadi nantinya tak ada pertanyaan lagi, misalnya kapan dana dari KONI turun? Dana hibah semua dikelola pengprov, mengikuti langkah 11 cabang yang sudah lebih dulu melakukan. Tugas KONI hanya menentukan indeks besar kecilnya, pengawasan dan adminstrasi pertanggungjawaban,” kata Hartono.
Menurut Hartono, pengelolaan anggaran kepada pengprov adalah untuk menjawab tantangan prestasi, khususnya program perekrutan pelatih nasional dan asing. Dikatakannya, sejumlah provinsi sudah melakukan penerapan iptek untuk mengangkat prestasi olahraga. “DKI Jakarta saat ini telah melakukan kerjasama dengan Korea untuk mendatangkan pelatih asing. Jika mendatangkan pelatih asing atau nasional masanya enam bulan. Harapan kami keberadaan pelatih asing bisa menanamkan iptek untuk program latihan,” ujarnya.
Hartono juga memaparkan bahwa perjuangan KONI untuk mengucurkan dana pembinaan atlet pelatda Jateng terus berjalan. Termasuk upaya-upaya KONI dalam menahan atlet yang berniat mutasi ke provinsi lain.
Tercatat sudah 24 atlet yang mengajukan mutasi, dua diantaranya sudah diloloskan oleh Badan Arbitrasi Olahraga Republik Indonesia (BAORI). ”Saya terus berkomunikasi dengan Pak Gubernur. Mudah-mudahan minggu depan sudah memperoleh persetujuan dan dicairkan,” tambahnya.
Di bagian lain, Wakil Ketua Umum I KONI Sukahar mengingatkan bahwa dalam penyusunan anggaran untuk persiapan Pra-PON, hendaknya realistis. Pasalnya, hal itu terkait erat dengan laporan pertanggungjawaban.”Kalau asal-asalan dan tidak realistis, tentu kelak akan menyulitkan dalam penyusunan laporan pertanggungjawaban,” pesannya.
KONI pun, kata dia, tetap akan melakukan verifikasi terhadap pengajuan anggaran yang disusun pengprov. Verifikasi tersebut mempertimbangkan prestasi cabang olahraga di berbagai even nasional dan estimasi medali untuk PON mendatang.
Dalam rakor tersebut mencuat berbagai pertanyaan pengprov. Misalnya dari Ketua Pengprov FASI Paralayang Nyoman Sri Aryadi yang menjelaskan bahwa cabangnya sering mengikuti even nasional yang bersifat seri. Dengan even yang berseri-seri, kata dia, bagaimana dalam menyusun anggaran untuk Pra-PON.
Selain Nyoman, Kabid Binpres FASI Aeromodeling David Gunawan mengatakan bahwa atletnya saat ini butuh peralatan untuk latihan. Padahal peralatan aeromodeling adalah produk luar negeri.”Sebaiknya ada penjelasan dari KONI bagaimana menyusun indeks untuk pembelian barang. Misalnya pakai kurs berapa,” kata David. (bas/smu)