TEMANGGUNG — Mengantisipasi banjir bandang yang biasa terjadi, bantaran Sungai Galeh yang berada pada titik rawan, dilakukan pembronjongan menggunakan kawat baja berisi batu-batuan kali.
Pemasangan bronjong tersebut, diharapkan mengurangi dampak banjir. Khususnya, abrasi pada jurang sungai.
Terakhir, sungai yang berhulu di lereng Gunung Sumbing itu, pada April lalu, terjadi banjir bandang yang menyebabkan permukiman warga Kelurahan Parakan Wetan, hanyut. Banjir bandang serupa diprediksikan akan kembali terjadi pada musim hujan mendatang, sehingga perlu langkah antisipasi.
”Saya senang ada pembronjongan. Sebelumnya, rumah saya terancam banjir Sungai Galeh. Hanya tinggal sekitar 2 meter saja dari bibir sungai,” tutur Rahmadi, 45, salah seorang warga Dusun Kentingsari, Kelurahan Parakan Wetan, Parakan.
Keterangan serupa disampaikan oleh Sofan, 37, warga lainnya. Kata Sofan, rumah miliknya tidak termasuk yang hanyut pada banjir April 2014 lalu. Meski begitu, rumahnya juga berdekatan dengan bibir Sungai Galeh. ”Pembronjongan ini bisa mengurangi kerawanan banjir Sungai Galeh yang seringkali datangnya tiba-tiba.”
Plt Kepala Kelurahan Parakan Wetan, Parakan, Bambang Soemardiono, mengatakan, pembronjongan merupakan wewenang Balai Besar Wilayah Sungai Opak (BBWSO). Selama ini, sebagian bronjong telah hanyut. Dana pembronjongan Rp 1 miliar, untuk membronjong bantaran sepanjang 200 meter.
Seperti diketahui, Sungai Galeh pada April lalu menghanyutkan dua rumah. Yakni, milik Rohadi, 52, dan Karno, 60, warga Kentengsari Kelurahan Parakan Wetan. Banjir juga mengancam puluhan rumah di sekitar bantaran sungai itu. (zah/lis/ce1)