SEMARANG – Kesiapan dunia usaha di Jawa Tengah terus ditingkatkan guna menghadapi pasar bebas pada 2015 mendatang. Salah satunya dengan memetakan kekuatan serta kelemahan yang perlu dibenahi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengatakan, Jawa Tengah harus mewaspadai ancaman global, karena sekarang yang dihadapi oleh Indonesia bukan hanya pasar lokal tetapi juga global. “Karena kita bersaingnya sudah kelas global, karena itu kita harus paham betul kekuatan mereka seperti apa. Pun dengan apa yang kita miliki,” ujarnya di sela pelaksanaan survei daya saing yang dilaksanakan oleh Asia Competitive Institute, belum lama ini.

Menurutnya, melalui survei daya saing tersebut pelaku usaha di Jateng menjadi lebih paham sejauh mana kekuatan, kesempatan, dan kelemahan yang masih dihadapi oleh dunia usaha Jateng. Termasuk juga apa yang harus mereka persiapkan.

Hasil survei tahun 2013 lalu, ucapnya, Jawa Tengah menempati posisi kelima. Posisi pertama ditempati oleh DKI Jakarta. Sedangkan posisi kedua Kalimantan Timur, kemudian disusul Jatim, Jabar, baru kemudian Jateng. “Beberapa faktor yang disurvei diantaranya kesiapan SDM, potensi penanaman modal, proses pengurusan investasi, dan kesiapan infrastruktur,” ujarnya.

Terkait kesiapan tersebut, Frans berharap Gubernur Jateng Ganjar Pranowo merealisasikan programnya yang menjadikan tahun ini sebagai tahun infrastruktur. Dengan begitu, persiapan Jateng menghadapi pasar global menjadi lebih matang. “Kami berharap gubernur segera memperbaiki sarana infrastruktur diantaranya jalan-jalan rusak dan pelabuhan Tanjung Emas Semarang,” ungkapnya.

Sedangkan posisi Jateng yang menduduki peringkat 5 dari 33 provinsi di Indonesia menjadi satu hal yang harus ditingkatkan. Setidaknya Jateng harus mampu bersaing dengan Jatim dan Jabar yang merupakan provinsi tetangga. (dna/ton)