Ratusan Pedagang Tahu Tempe Bangkrut

PEKALONGAN-Naiknya harga kedelai yang di luar batas kewajaran, kembali membuat kelimpungan para pedagang tahu dan tempe di Kota Pekalongan. Kedelai yang semula Rp 5.700/kg, kini naik menjadi Rp 8.600/kg dengan kualitas sedang. Sedangkan kualitas bagus semula Rp 8.800/kg naik menjadi Rp 10.600/kg.
Berdasarkan pantauan Koran ini, kini sebagian besar perajin memilih tidak berproduksi. Bahkan, dari 500-an pedagang tahu tempe di sentra produksi tahu tempe Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, kini tinggal 40-an pedagang yang masih bertahan lantaran memiliki pelanggan tetap. Itupun mengurangi jumlah produksinya.
Menurut Sutarjo ,46, perajin tahu tempe dari Kelurahan Kuripan, RT 04 RW 02, Kecamatan Pekalonga Selatan, mengungkapkan bahwa naiknya harga kedelai hingga 60 persen, mendorong dirinya mengurangi jumlah produksi dan ukuran tahu tempe yang akan dijual.
”Meskipun harga kedelai naik, tidak mungkin menaikkan harga jual tahu tempe. Karena tahu tempe makanan orang kecil. Alternatifnya ya mengurangi ukuran,” kata Sutarjo, di rumahnya.
Diakui Sutarjo, karena naiknya harga kedelai, banyak perajin tahu tempe yang beralih profesi menjadi pedagang makanan ringan atau es buah. ”Sekarang minyak goreng naik, gas elpiji juga naik. Kami mau jual tahu tempe dengan harga berapa, kalau harga kedelai juga naik,” kata Sutarjo yang semula membeli kedelai 60 kg perhari, kini hanya 25 kilogram saja.
Hal senada dikatakan H Rozikin, 56, pedagang tempe asal Desa Buaran RT 02 RW 01, Kecamatan Pekalongan Selatan. Dirinya tidak bisa mengambil keuntungan lebih, dengan naiknya harga kedelai yang cukup tinggi. Padahal tempe produksinya sudah terkenal higienis tanpa campuran. ”Dalam kondisi seperti ini, saya hanya bisa bertahan. Masih lumayan, sekeluarga bisa ikut makan, tanpa mendapatkan laba,” ujar Rozikin.
Sedangkan pengurus Koperasi Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Pekalongan, Mahmudin menandaskan bahwa sejak tidak aktifnya KOPTI di beberapa daerah, harga kedelai semakin tak terkendali. Kondisi ini, kerap menyusahkan para pedagang kecil, khususnya perajin tempe tahu.
”Kalau dulu harga kedelai selalu stabil, karena pemerintah ikut campur tangan. Sekarang pemerintah terkesan lepas tangan. Kalaupun ada subsidi, kondisinya tidak terlalu membantu perajin tahu tempe,” kata Mahmudin saat ditemui di rumahnya.
Sementara itu, Kasi Perindustrian, Dinas Koperasi UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, Kota Pekalongan, Biswo, menuturkan bahwa naiknya harga kedelai lantaran terpengaruh naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, yakni Rp 11.800 per dollar. Karena itulah, kedelai impor juga menyesuaikan. ”Jika kurs dolar Amerika naik, maka harga impor kedelai juga ikut naik. Dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) juga tidak mampu berbuat banyak,” tutur Biswo. (thd/ida)