Susunan Pengurus Baru PASI Jateng Munculkan Kontroversi

SEMARANG – Draf susunan pengurus Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Jateng periode 2014-2018 yang disusun oleh tim formatur hasil Musprov Pengprov PASI lalu, menuai sorotan dari kalangan insan atletik Jateng.
Ketua Harian PASI Blora Heri Setiyono misalnya, dia menilai, pada draf susunan pengurus PASI yang saat ini tengah dimintakan rekomendasi KONI Jateng dan PB PASI ada pos-pos tertentu yang bisa memicu kontroversi.
“Kepengurusan sekarang banyak yang diisi wajah baru dan masih muda. Bukan berarti kami kurang percaya kepada integritas dan kemampuannya. Tapi mestinya pos yang strategis seperti sekretaris dan wakilnya dicarikan pengurus yang berdomisili di Semarang atau dicarikan yang dekat dengan ketua umum. Misalnya anak buahnya Pak Supi’i (Ketua Umum PASI Jateng Supi’i, Red),” kata Heri saat dihubungi melalui ponselnya, kemarin.
Berdasarkan draf susunan pengurus PASI Jateng, untuk posisi sekretaris umum yang merupakan posisi strategis ditempati Hermahayu, mantan atlet yang kini berdomisili di Yogyakarta dan mengajar di salah satu perguruan tinggi di Magelang. Sedangkan wakil sekretaris I adalah Bayu Suko yang berdomisili di Surakarta. Pengurus harian lainnya adalah Rumini (ketua harian), Hamzah dan Heri Setiyono (kabid organisasi dan organisasi), Siswanto (kabid pembinaan), Budi Leksono (kabid umum), Miftahul Faizin (wakil sekretaris II) serta Fransiska Ayu, Setiyono (bendahara dan wakil).
Heri yang pada kepengurusan era Supi’i ini diplot sebagai anggota kabid organisasi mengakui, pihaknya banyak menerima SMS yang bernada menggugat kepengurusan PASI kali ini. Pasalnya ada pengurus yang memiliki jejak rekam kurang bagus terkait pelanggaran etika di PASI. Padahal yang bersangkutan berada di pos inti. ”Beberapa waktu lalu, saya sudah ketemu tim formatur. Saya sudah sampaikan suara teman-teman. Intinya tolong cermati lagi susunan pengurus. Tapi silakan, saya tak punya kapasitas untuk memaksakan atau mempengaruhi,” imbuh ketua umum KONI Blora itu.
Ketua Komisi Teknik dan Penataran PASI Kabupaten Pekalongan Rony Yunanda Windiarno juga menyebut, bahwa di sejumlah pos diisi figur yang kurang pas. Dia juga mencontohkan Hermahayu yang berada di luar Kota Semarang. Padahal sekretaris itu adalah roh organisasi terkait dengan surat-menyurat dan menjalin komunikasi dengan semua pengkab/pengkot.
Dia juga menyoroti penempatan figur-figur lama seperti Heri Setyono, Paryanto dan Yustanto (PASI Kota Semarang) di tempat yang tak pas. Dia juga melihat kepengurusan Supi’i kelewat gemuk yaitu 40 orang. ”Pak Heri idealnya di pos pembinaan, Pak Paryanto di sarpras dan Pak Yustanto di sekretaris. Di pos komisi pelatih pun mestinya diisi spesialiasi yang beragam. Saya lihat ada nama yang spesialisasinya sama yaitu nomor sprint. Mestinya ditambah nomor lempar,” kata Rony yang masuk kepengurusan sebagai koordinator karesidenan Pekalongan.
Ketua Panitia Musprov Yustanto mengatakan, pihaknya hanya mengantarkan Musprov untuk memilih ketua dan tim formatur. Kewenangan kepengurusan memang ada pada mereka. Meskipun demikian, suara pengkab/pengkot sebaiknya didengar untuk menjaga kesolidan bersama.
Sementara itu, anggota tim formatur Rumini mengatakan, kepengurusan yang disusunnya sudah melalui pertimbangan matang. Formulanya adalah 60 persen pengurus lama, 40 persen wajah baru. Jika sekarang muncul kontroversi, kata Rumini, itu hal yang biasa dalam dinamika organisasi.
Dalam menyusun kepengurusan, lanjut dia, berlandaskan penyegaran. Pihaknya memberikan kesempatan kepada yang muda agar bisa belajar dari seniornya. ”Sikap puas tak puas, merasa pas dan tak pas, itu wajar. Di mana-mana juga begitu. Tak ada yang sempurna. Tapi yang jelas ada pertimbangan tertentu, misalnya arahan PB PASI bahwa mantan atlet dan tenaga perguruan tinggi dilibatkan. Arahan ini sudah kami akomodasi,” kata dosen FIK Unnes itu. (bas/smu)