KENDAL—Muhamad Islahudin alias Wawan, 27, terdakwa atas pembunuhan terhadap Nafidhatul Khaeroh, 19, warga Ngampel, dituntut pidana 20 tahun penjara. Menurut jaksa penuntut umum (JPU), terdakwa terbukti melakukan pembunuhan berencana.
“Yakni terdakwa secara meyakinkan melanggar pasal 340 sebagaimana dakwaan primer kami,” ujar jaksa Amirudin dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal saat membacakan tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Kendal, Selasa (10/6) kemarin.
Dari saksi dan barang bukti yang dihadirkan dalam persidangan, perbuatan Wawan membunuh Nafidhatul secara keji telah memenuhi unsur dalam pasal pembunuhan berencana. Yakni unsur dengan sengaja, berencana dan menghilangkan nyawa orang lain.
Karena itu, lanjut Amir, tuntutan 20 tahun penjara telah melalui beberapa pertimbangan memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan perbuatan terdakwa telah memisahkan korban dengan keluargannya. “Perbuatan terdakwa sangat keji, tidak manusiawi dan meresahkan warga,” tandasnya.
Amir menjelaskan bahwa terdakwa awalnya mengajak korban untuk jalan-jalan. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di Hutan Darupono, terdakwa berhenti dan hendak mencium korban namun ditolak.
Setelah itu, keduanya melanjutkan perjalanan ke tempat wisata Nglimut. Di Nglimut terdakwa hendak mencium lagi, namun kembali mendapat penolakan. Setelah itu keduanya pulang melewati Pasar Mangkang dan terdakwa mengarahkan melalui hutan Darupono kembali.
“Di tengah hutan Darupono, terdakwa memaksa korban untuk mencium, namun ditolak korban dengan mendorongnya sehingga terdakwa jatuh. Korban berkata, kamu ini kok memaksa kaya anak kecil. Kamu ini kan orang miskin, orang tuamu orang tidak punya,” jelas Amir.
Perkataan korban membuat Wawan naik darah dan balik mendorong korban hingga terjatuh. Korban hendak bangun dan lari, namun terdakwa mengeluarkan pisau dan menusuk korban punggung hingga terjatuh. “Korban sudah meminta ampun,” tuturnya.
Wawan kemudian menusuk perut korban sebanyak lima kali, bagian mulut empat kali agar korban tidak berteriak. Tak hanya itu, korban juga menusuk bagian dada korban hingga menembus jantung sebanyak empat kali.
“Setelah itu, korban membawa tubuh korban yang sedang sekarat ke dalam hutan yang sepi. Terdakwa membeli bensin lalu menyiramkannya ke wajah, leher dan dada korban kemudian membakarnya,” tegasnya.
Bahwa saat dibakar, korban masih dalam keadaan hidup dan menjerit merasakan kepanasan. Setelah terdakwa memastikan korban tidak bernyawa, lalu ditinggal dengan membawa handphone, motor dan barang berharga lainnya milik korban untuk dijual. “Perbuatan terdakwa jelas berencana,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, terdakwa Wawan didampingi penasihat hukumnya Suroto mengaku akan mengajukan pembelaan. Sementara  ibu korban dan keluarga korban menyatakan protes.
Siti Aminah, ibu korban mengaku tuntutan jaksa dinilai belum memenuhi rasa keadilan terhadap dia yang sudah kehilangan anak yang telah dibesarkannya. “Tuntutan jaksa 20 tahun penjara masih terlalu ringan. Harusnya terdakwa dituntut pidana minimal hukuman mati,” katanya. (bud/ida)