MANYARAN — Kesadaran ibu hamil akan pentingnya kandungan gizi masih rendah. Padahal, usia kehamilan 3 bulan pertama sangat penting bagi perkembangan organ tubuh janin. Salah satu akibat dari rendahnya gizi yang dikonsumsi ibu hamil adalah bayi yang lahir dengan sumbing bibir.
”Betapa pentingnya gizi bagi ibu hamil, terutama 3 bulan pertama kehamilan di mana organ tubuh sedang dibentuk,” kata Ketua Yayasan Permata Sari Endang Sri Sarastri Karsono di sela bakti sosial ’Operasi Gratis Sumbing Bibir dan Langit-langit’ di RS Permata Sari, Jalan Kolonel Warsito Sugiarto, Senin (9/6). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Permata Sari dengan PKK Provinsi Jawa Tengah, Perum Perhutani, Rotary Club Semarang Bojong, Indraprasta, Tugu Muda, Tanjung Mas, Bukit Sari dan Kudus.
Endang mengatakan, sebanyak 90 orang mendaftar untuk menjalani operasi. Tapi setelah dicek tim medis, hanya 71 orang yang dinyatakan lolos untuk bisa menjalani operasi. ”Tidak lolos ini disebabkan karena 3 anak menderita penyakit paru-paru, 5 orang kekurangan berat badan, 6 orang Hb kurang, dan yang lainnya belum cukup umur,” katanya. Penderita sumbing bibir yang menjalani operasi kali ini yang terkecil berusia 3 bulan dan paling tua berusia 68 tahun.
Kepala Divisi Industri Non Kayu Perum Perhutani Lukman Imam Syafii yang mewakili fasilitator penderita mengatakan, penderita kebanyakan berasal dari Purworejo sebanyak 13 orang. Kemudian ada dari Brebes (8), Cilacap (7), Kendal (6). Lainnya berasal Rembang, Temanggung, Wonosobo, Pati, Jepara dan Purwodadi. ”Kebanyakan mereka dari keluarga yang kurang mampu yang tinggal di pedesaan dan masyarakat sekitar hutan,” kata Lukman.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jateng Siti Atikoh Ganjar Pranowo yang hadir dalam kesempatan tersebut mengaku sangat mengapresiasi kegiatan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat ini. ”Bakti sosial yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat ini dapat berlanjut pada kesempatan-kesempatan yang akan datang,” kata Siti Atikoh.
Berdasarkan data yang ada, jumlah pasien yang telah ditangani dalam kerja sama sampai saat ini telah mencapai 1.336 orang. ”Tentunya hal ini sangat membantu pemerintah, karena tidak menggunakan APBN maupun APBD,” tutur Siti Atikoh.
Ketua Tim Medis, dr Karsono Mertowidjojo SpBp berharap agar bantuan operasi ini tidak hanya diberikan kepada 71 orang yang lolos screening. ”Sembilan belas orang yang belum lolos diharapkan juga bisa ditangani,” kata Karsono. (mg1/ton/ce1)