Pembunuhan Balita di Kramas Tembalang



KRAPYAK – Keluarga korban pembunuhan dua balita atas nama Kanaya Nadine Aulia Zahrani Wiyono, 2, dan Keanu Riefky Antasena Wiyono,1, di Kelurahan Kramas Tembalang Semarang beberapa waktu yang lalu meminta supaya pelakunya dihukum mati. Pasalnya, perbuatan mereka tergolong sadis dan tidak berperikemanusiaan.

Hal itu diungkapkan ayah korban Sugeng Wiyono saat mendatangi kantor advokat Margono untuk meminta bantuan dan perlindungan hukum, Selasa (10/6). Mereka menilai majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang tidak adil saat menjatuhkan vonis pidana seumur hidup kepada Ahmad Musa, 28 dan pidana penjara 20 tahun terhadap Abdur Rohman, 32.

”Seharusnya mereka dihukum mati sebagaimana tuntutan jaksa. Kami belum bisa menerima (putusan tersebut),” ungkapnya kepada wartawan.

Sugeng menegaskan, kedua pelaku pantas diberi hukuman mati. Ia berharap hal itu dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak berani melakukan hal serupa. ”Sehingga tidak akan lagi korban di keluarga lainnya,” imbuhnya didampingi nenek korban, Siti Wuryani dan paman korban, Widiarto Adi Nugroho.

Sementara itu, Margono menegaskan bahwa kedua terpidana memang layak dijatuhi hukuman berat. Perbuatan mereka mengakibatkan hilangnya dua nyawa balita, juga menganiaya perawat korban, Murni, 36, hingga luka berat. ”Ditambah lagi, hingga sekarang keduanya juga belum pernah meminta maaf kepada keluarga korban,” ungkapnya.

Atas dasar itu, ia menilai putusan hakim PN Semarang belum memenuhi keadilan. Ia mendesak agar di tingkat banding nantinya majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Semarang menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya. ”Saya berharap hakim PT mempunyai pandangan yang berbeda,” ungkapnya.

Seperti diketahui, pada 3 April 2014 yang lalu majelis hakim PN Semarang yang diketuai Bambang Setyanto dalam amar putusannya menjatuhkan pidana yang berbeda terhadap kedua terdakwa. Ahmad Musa dihukum pidana penjara seumur hidup, sedangkan Abdur Rohman dihukum penjara 20 tahun.

Musa dinilai sebagai otak kejahatan, sementara Abdur Rohman sebagai orang yang turut serta melakukannya. Keduanya dinilai secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 365 ayat 1 dan 4 KUHP, tentang pencurian yang disertai kekerasan, hingga mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.

Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang mengajukan upaya hukum banding. Putusan itu dinilainya masih ringan karena lebih rendah dari tuntutan JPU yang menuntut kedua terdakwa dengan pidana hukuman mati.(fai/ton/ce1)