Kelenteng dan Kuil Hindu Berdampingan di Pecinan

121

Berwisata Heritage ke Malaysia, Negeri dengan Beragam Etnis

Berwisata ke Kuala Lumpur (KL), Malaysia tak harus diisi dengan belanja seperti yang dilakukan sebagian besar wisatawan asal Indonesia. Malaysia yang penduduknya terdiri atas etnis Melayu, Tiongkok, dan India membuat negara tersebut kaya ragam budaya. Jika jeli menentukan destinasi, banyak wisata heritage yang bisa dilihat di negeri jiran tersebut.

TAHUN lalu, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia hanya sekitar 8,8 juta. Pada saat yang sama, Malaysia mencatatkan kunjungan wisatawan lebih dari 25 juta jiwa atau hampir tiga kali lipat dari jumlah turis asing yang berkunjung ke Indonesia. Meski objek wisata alamnya tak sebanyak Indonesia, Malaysia pandai mengemas kekayaan budayanya agar dikunjungi orang.
Dengan hanya menyambangi pusat kota KL, sudah banyak yang bisa dilihat. Selain Petronas Tower yang terkenal, ada Masjid Jamek di Jalan Tun Perak, Kuala Lumpur. Lokasi masjid cukup istimewa karena berada di dekat pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak, titik nol kilometer kota KL. Dari Jalan Bukit Bintang yang menjadi salah satu kawasan backpacker, koran ini dapat mencapainya kurang dari 30 menit dengan mobil. Zahrul, rekan dari KL yang mendampingi Radar Semarang mengatakan pembangunan masjid ini digagas Sultan Selangor dan resmi dibuka pada 1909. Saat ini Masjid Jamek menjadi landmark KL. ”Arsitektur masjid mengadopsi gaya Indo-Saracenic yang awalnya berkembang di India. Gaya serupa bisa ditemukan di hampir semua bangunan penting dari era kolonial di KL,” ujar Zahrul.
Objek wisata lain yang cukup dikenal adalah Batu Caves yang terletak di Gombak District. Ini adalah kompleks kuil Hindu yang berada di dalam gua, letaknya 13 kilometer dari pusat kota KL. Asyiknya objek bagus ini dapat dimasuki dengan gratis. Saat Radar Semarang berkunjung, kawasan ini ramai oleh turis asing. Yang paling mencolok dari destinasi ini adalah Patung Dewa Murugan berwarna kuning setinggi 42 meter. Untuk masuk gua raksasa sepanjang 400 meter dan tinggi 100 meter, pengunjung harus mendaki 272 anak tangga. Meski begitu, wisatawan harus sedikit waspada karena di sekitar tangga banyak monyet yang terkadang mengincar makanan yang dibawa pengunjung.
Rekan di Malaysia, Evi Joe mengatakan di tempat ini setiap tahun digelar perayaan Thaipusam yang diikuti sekitar satu juta pengunjung dari seluruh dunia. ”Thaipusam digelar setiap Februari dan selalu ramai pengunjung. Selain dari komunitas Hindu Tamil, banyak wisatawan yang ingin menyaksikan festival ini,” ujarnya.
Rata-rata wisatawan yang datang ke Thaipusam penasaran dengan atraksi ekstrem pemuja Dewa Murugan yang menusuk dan menindik tubuhnya dengan benda tajam. Perayaan digelar saat para pemuja Murugan berjalan kaki mengarak patung Dewa Murugan yang disimpan di Sri Mahamariamman Temple di kawasan Pecinan ke Batu Caves. Jaraknya sekitar 13 kilometer.
Jika ingin melihat kehidupan sehari-hari etnis India, bisa datang ke Brickfield yang merupakan kawasan Little India. Di tempat ini jangan lupa mencicipi Banana Leaf Rice atau nasi yang disajikan dengan sayuran dan lauk serbakari di atas daun pisang yang terkenal.
Bergeser ke kawasan Pecinan, Jalan Petaling menjadi landmark yang paling dikenal. Petaling Street adalah pusat pedagang kaki lima yang menjajakan busana dan suvenir ala Malaysia. Di dekatnya ada Kuan Ti Temple yang ada di Jalan Tun HS Lee. Juga Sri Mahamariamman Temple yang merupakan kuil Hindu komunitas India Tamil.
Selain di KL, koran ini juga mengunjungi Chin Swee Caves Temple, sebuah kelenteng Tao di Genting. Mungkin tidak banyak yang tahu jika di Genting ada kelenteng dengan pagoda dan patung Buddha raksasa ini. Destinasi ini memang lebih dikenal dengan theme park dan pusat perjudian atau kasino.
Tempat ini dibangun dari sumbangan Tan Sri Lim Goh Tong, pemilik Genting resort & casino. Bangunan ini mulai dibangun sejak tahun 1975 yaitu setelah berdirinya Genting Highland Resort, sebuah hotel dengan kasino kecil di dalamnya. Selain diperuntukkan bagi umat Tao dan Buddha, kelenteng ini juga dibuka untuk wisatawan, dan lagi-lagi gratis. (ricky fitriyanto/smu/ce1)