MAGELANG – Prihatin dengan semakin banyaknya perempuan yang terkena kanker serviks, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar penyuluhan dan pelatihan pencegahan kanker serviks dan payudara. Penyuluhan berlangsung di Rumah Sakit Tentara (RST) dr Soedjono Magelang, mulai Senin (9/6) dan berlangsung selama tiga hari.
Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama YKI dan Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Temanya: Gerakan Nasional Peduli dan Pencegahan Kanker Serviks.
Materi yang disampaikan mengenai penyebab hingga pencegahan dan penyembuhan. Di antaranya, tentang deteksi dini, papsmear,  inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) dan pemberian vaksin serviks.
Ketua YKI Kota Magelang, Sri Redjeki Soelistiyono, menjelaskan, penyebab kanker serviks adalah human papilloma virus (HPV). Biasanya menyerang bagi mereka yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Pencegahannya bisa dilakukan papsmear.
Namun, Sri menambahkan, bagi yang belum pernah melakukan hubungan seksual, bisa dilakukan dengan pemberian vaksin pada seseorang. “Mulai umur 11 tahun bisa di berikan vaksin. Harga vaksin berkisar Rp 1,8 juta,” katanya disela-sela acara.
Dia juga menerangkan, kanker serviks dan kanker payudara menempati urutan teratas dari 10 kanker yang bahaya. Karena itu, pihaknya gencar melakukan sosialisasi hingga ke lapisan masyarakat. “Sosialisasi menjadi salah satu upaya dalam menurunkan angka penderita kanker serviks,” imbuhnya.
Sulis menginformasikan pula,  pada Selasa (10/6), akan ada tindak lanjut dari kegiatan tersebut. “Rencananya hari Selasa akan di adakan pap smear dan bertempat yang sama,” jelasnya.
Wakil Ketua YKI Murniati Widodo AS, menambahkan,  inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) adalah metode lain dalam pencegahan kanker serviks. IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5 persen.
Menurutnya, metode IVA adalah yang paling murah dibandingkan dengan metode yang lain. Selain mudah, praktis, dan menggunakan alat yang sederhana, metode ini bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan. “Yang terpenting, jangan takut periksa ke dokter. Supaya jika ada indikasi terserang kanker serviks bisa segera ditindaklanjuti,” tegasnya. Dia menjelaskan, sosialisasi ini dilakukan di 75 cabang yang tersebar di Indonesia. Untuk Jawa Tengah (Jateng) dipilih Kota Magelang. (mg4/lis)