SEMPAT menuntut ilmu di International Management di Teesside University Middlesbrough pada 2013 silam, membuat Rachel Arninda lebih menghargai waktu. Apalagi di Inggris, warganya dikenal sangat disiplin. Hal itu sempat membuat Rachel kerepotan mengikuti alur kehidupan warga negara di Eropa tersebut.
”Keseharian orang Inggris sangat berbeda dengan di Indonesia, di sana saat hari kerja benar-benar konsentrasi dengan pekerjaan. Bahkan tidak ada suara ribut, apalagi jam karet yang sering terjadi di sini,” kata Rachel kepada Radar Semarang.
Penghobi traveling kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1988 ini menceritakan soal cara menghargai orang di sana. Misalnya, dalam mengharga para pekerja part time. Bekerja selama 8 jam sehari di Inggris bisa mendapat gaji yang besarannya cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari. ”Mereka tidak boleh mengambil porsi kerja 20 jam, karena justru akan dikenai pajak yang tinggi. Artinya, pelajar di sana memang tidak diperbolehkan menghabiskan waktu untuk bekerja,” ujarnya.
Pengalaman yang didapat dari Inggris selama 2 tahun itu membuat pemilik postur tubuh 165 sentimeter dan berat badan 57 kg ini makin terasah. Ia juga menjadi lebih optimistis dalam menjalani hidup. Sekarang Rachel jadi suka menaklukkan tantangan ketimbang harus menghindar dari kewajiban yang dianggap cukup berat dalam menjalani karir.
”Seberat apa pun, harus tetap dijalanin. Tidak mungkin mentok selama masih bekerja keras. Pasti ada jalan meski tidak bisa se-perfect seperti yang diinginkan,” kata dara cantik yang bekerja sebagai Public Relations Hotel Grand Candi Semarang ini. (den/aro/ce1)