KENDAL—Angka pelanggaran tata tertib berlalu lintas di Kendal sangat tinggi. Hal itu terbukti, ratusan orang pengendara, baik roda dua, roda empat, truk, trailer, atau bus.
Ratusan pelanggar tersebut terjaring dalam razia gabungan yang digelar Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) di Jalur Pantura Terminal Bahurekso, Weleri, Kendal, Senin (9/6). Pelanggaran terbanyak pada pengendara kendaraan pribadi yang surat kendaraan bermotornya tidak lengkap.
“Sedangkan untuk bus angkutan umum muapun truk trayek adalah izin trayek, kelaikan kendaraan, izin pengujian atau KIR,” ujar Kepala Unit Perhubungan Karesidenan Semarang Dishubkominfo Jateng, Agus Santosa.
Kelaikan kendaraan tersebut meliputi, kondisi kendaraan seperti tidak adanya lampu utama, lampu sein, lampu stop. Namun yang paling memprihatinkan adalah masih banyak truk yang mengangkut bahan material melebihi kapasitas yang sudah ditentukan. 
Agus mengatakan, operasi gabungan untuk mengantisipasi kamacetan pada bulan Ramadan nanti. Sebab, diperkirakan banyak truk trayek yang mengejar target dengan mengangkut muatan berlebih.
Dalam operasi gabungan tersebut, para pelanggar langsung ditindak dengan tilang dan menjalani sidang di lokasi razia. Sebab selain petugas Dishubkominfo Jateng, juga melibatkan polisi lalu lintas, petugas Kejaksaan Negeri Semarang sebagai penuntut umum serta hakim Pengadilan Negeri (PN) Kendal.
Kepala Seksi Pengawasan dan Operasional Dishubkominfo Jateng, Iskak menambahkan pelanggaran angkutan umum dan truk terkait izin trayek, uji KIR, kelaikan kendaraan, kelebihan muatan dalam razia ini, tertinggi di eks Karesidenan Semarang. “Terutama kelebihan muatan dan KIR. Tindak lanjut operasi ini kami akan kami telusuri apa sebenarnya permasalahan sehingga angkutan dan truk trayek ini tidak memperpanjang uji KIR yang sedianya diperpanjang 6 bulan sekali,” tuturnya.
Selain itu menjelang puasa ini, banyak pula ditemukan bus-bus pariwisata yang hanya memiliki izin pariwisata namun sudah mulai digunakan untuk mengangkut penumpang. “Selain itu becak motor (bentor) juga belum memiliki izin sebagai angkutan, tapi sudah banyak yang beroperasi,” tambahnya. (bud/ton)