Kuota Transmigrasi 2014 Dikurangi

147

JEPARA – Kuota transmigrasi Kabupaten Jepara tahun ini mengalami pengurangan. Pada tahun ini hanya lima kepala keluarga (KK) yang akan berangkat Agustus mendatang. Pemangkasan kuota ini mencapai 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 10 KK.
Kabid Hubungan Industri Syarat Kerja (Hubinsyaker) pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) M Subhan mengatakan, lima KK yang akan diberangkatkan berasal dari Kecamatan Pakis Aji dan kecamatan Keling. Tujuan transmigrasi tahun sendiri yakni wilayah Sumatra Selatan. ”Ini (KK berangkat, Red) sesuai dengan urutan daftar tunggu paling lama. Selain itu juga disesuaikan dengan daerah tujuan mereka,” katanya.
Pemangkasan ini, lanjutnya, disesuaikan dengan kuota dari pemerintah pusat, yaitu lima keluarga untuk Kabupaten Jepara. Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kuota tahun ini merupakan paling sedikit. ”Pengurangan kuota transmigrasi secara nasional memang berpengaruh terhadap kuota dari kabupaten/kota di Jawa Tengah,” ungkapnya.
Subhan menjelaskan, beberapa tahun lalu Jepara sempat mendapatkan kuota 20 KK selama beberapa tahun. Kemudian pada 2013 berkurang menjadi 10 KK. Pemangkasan tersebut kembali terulang tahun ini sehingga keluarga yang akan diberangkatkan hanya mencapai lima keluarga.
Disinggung mengenai daftar tunggu sendiri, Subhan menyebutkan, saat ini daftar tunggu keluarga yang ingin melakukan transmigrasi mencapai 125 keluarga. ”Mereka harus mengantri lama, karena kuotanya terus berkurang. Belum tentu dalam sepuluh tahun mendatang semuanya bisa diberangkatkan,” jelasnya.
Bagi Subhan, pengurangan kuota ini juga memiliki sisi positif, karena pemilihan tempat transmigrasi juga dilakukan dengan maksimal. ”Lokasi yang paling banyak dipilih transmigrasi Kabupaten Jepara adalah Sumatra dan Kalimantan. Sedangkan Sulawesi paling banyak dihindari, karena dianggap rawan konflik,” tuturnya.
Subhan menambahkan, menjelang pemberangkatan, keluarga yang telah mendaftarkan diri juga akan ditinjau ulang. ”Mengingat masa tunggunya lama, siapa tahu kondisi keluarga sudah berubah dan tak menginginkan transmigrasi lagi,” imbuhnya. (emy/zen/jpnn/ric)