Warga NU Testimoni Melawan Fitnah

98

SOLO – Suhu politik pada kampanye pemilu presiden (pilpres) mulai menghangatkan Kota Solo. Kemarin (7/6), eks Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Kiai Hasyim Muzadi, menyambangi Kota Bengawan. Dia bertemu para pewarta di sebuah rumah makan di Jalan Ronggowarsito.
Hasyim mengukuhkan bahwa warga NU se eks Karesidenan Surakarta mendukung Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden. Sebagai bentuk dukungan ini, warga NU siap mengeluarkan testimoni melawan fitnah yang ditujukan pada Jokowi.
Hasyim mengatakan, sebagai mantan ketua PB NU, dirinya berhak menyatakan dukungan pada pasangan Jokowi-JK. Sebab, warga NU banyak yang memberikan dukungan pada pasangan nomor dua ini lantaran faktor Jusuf Kalla. ”Perkiraan saya lebih banyak ke pasangan ini karena faktor Jusuf Kalla. Suara yang menuju ke Pak Prabowo kalah banyak karena pasangan memimpinnya bukan dari NU,” katanya.
Lantas, ketika disinggung kedua pasang calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) ke pondok pesantren, menurut dia hal wajar-wajar saja. Sebab, hal itu selalu terjadi dalam pemilu, baik pemilu legislatif maupun dalam pemilihan presiden. Pihak pesantren tidak pernah mengundang para pasangan capres-cawapres.
Sedangkan sebagian warga NU yang memilih Prabowo, menurutnya bukan sebagai perpecahan dalam tubuh NU. Hal itu terkait keputusan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan perpecahan dalam tubuh organisasi.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Solo Hilmi Ahmad Sakdilah mengungkapkan alasan memilih pasangan nomor 2. Yang mendasari pilih Jokowi-JK lantaran keberadaan Jusuf kalla sebagai pengurus mustasar PB NU dan Jokowi tokoh yang berasal dari Solo.
”Warga NU Solo mengarah ke Jokowi, hampir semua. Dan terkait banyaknya fitnah negatif terhadap Jokowi, kami akan menyampaikan testimoni. Intinya segala fitnah yang berkaitan dengan Jokowi itu tidak benar dan kami wajib meluruskannya,” ungkap dia.
Dia mengatakan, efek black campaign sangat berbahaya. Sebab, gara-gara fitnah itu, bisa mengalihkan dukungan Jokowi. Menurut Hilmi, NU memiliki pandangan tersendiri untuk menentukan calon pemimpin bangsa. Ada enam syarat yang harus dipenuhi calon pemimpin, yakni beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, jujur, adil, amanah, cerdas, dan berakhlakul karimah, bersih, serta bebas dari masalah hukum.
Disamping itu, harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang merakyat, berpengalaman, serta bijaksana dalam memimpin rakyat. Lantas, sederhana dan bekerja keras serta mempunyai visi dan misi yang jelas bagi pembangunan negara.
Terpisah, tim sukses Prabowo Subianto-Hatta Rajasa Kota Solo dikukuhkan kemarin. Pada kesempatan itu, dihadiri Ketua Megabintang Mudrick Sangidoe. Hadir pula perwakilan Partai Demokrat, Suherlan dan Nindita Wisnu Broto. Tedjowulan, ketua tim pemenangan mengaku siap mengemban tanggung jawab sebagai ketua tim pemenangan.
Pihaknya meminta kepada semua partai pengusung untuk bersama-sama menyatukan tekad memenangkan pasangan Prabowo-Hatta pada pilpres.(din/un)