Kampung Batik Semarang, Nasibnya Sekarang?

Kampung Batik Semarang pernah mencapai kejayaan. Pada 1919-1925 sentra batik di Kota Semarang sangat berkembang. Tapi setelah itu mengalami pasang surut. Upaya membangkitkan kejayaan Kampung Batik Semarang telah dimulai pada 2005, dipelopori oleh Pemkot Semarang lewat Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Pelatihan–pelatihan membatik dan pemasaran kerap diadakan di Kampung Batik Semarang. Kampung Batik Semarang juga diproyeksikan sebagai kampung wisata. Tapi ternyata gregetnya hingga sekarang belum sehebat gaung sentra batik di kota lainnya. Seperti Pekalongan, Solo, Jogja, dan Cirebon. Kenapa?

KAMPUNG Batik Semarang terletak di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur. Tepatnya di belakang Hotel Djelita, dekat bundaran Bubakan.  Meski tidak jauh dari pusat kota, ternyata banyak warga yang tidak mengetahuinya. Hal ini dikarenakan kurangnya promosi oleh pemerintah serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan salah satu warisan budaya adiluhur ini.
Pintu masuk Kampung Batik ini berupa jalan berpaving yang terbagi menjadi dua lajur. Di bagian tengah jalan dibuat taman. Sayangnya, kondisi tamannya sudah tak terawat. Pintu masuk Kampung Batik ini hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Yang menandakan sebagai Kampung Batik adalah papan petunjuk bercat putih hitam yang dibuat Pemkot Semarang.
Saat Radar Semarang mengunjungi salah satu destinasi wisata di Kota Semarang itu, Jumat (6/6) lalu, tampak kampung tersebut masih lengang. Mungkin dikarenakan masih pagi atau memang karena hari Jumat. Meski begitu, sudah terlihat beberapa aktivitas warga di sana.
Iin Windy Indah Cahyani, salah satu perajin batik di kampung itu mengungkapkan, kondisi Kampung Batik sekarang cukup memprihatinkan. Pasalnya, meski terkenal dengan kampung batik, tapi hanya sebagian kecil warganya yang benar-benar menekuni seni membatik. “Yang benar-benar jadi perajin batik bisa dihitung dengan jari. Sedang yang lainnya hanya sebagai penjual,” ungkapnya.
Pemilik usaha Cita Batik Semarang ini mengungkapkan, sejak dikembangkan sebagai kampung batik pada 2006 lalu, hanya beberapa warga yang memiliki pengetahuan tentang batik Semarang secara maksimal. Jika hal itu tetap dibiarkan, maka nantinya akan timbul informasi yang salah tentang batik Semarang.
“Batik itu bukan permainan, tetapi sebuah warisan budaya. Jadi, sebisa mungkin harus tetap dilestarikan sesuai dengan aslinya. Kalau tidak, maka lambat laun akan hilang,” katanya.
Ia mencontohkan, sebenarnya motif dari batik Semarang adalah flora dan fauna yang terpengaruh dari China. Dikarenakan di Semarang banyak heritage, maka kemudian dibuat batik bermotifkan ikon-ikon Kota Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Tugu Muda, dan lain sebagainya. “Sehingga motif-motif tersebut tidak tersekat-sekat dan banyak pilihan jika dituangkan,” ujarnya.
Meski begitu, Iin berharap batik asli Semarang tetap dilestarikan. Jangan sampai kalah oleh gempuran batik-batik dari luar. Sebab, saat ini batik Semarang masih dalam tahap proses pencarian identitas. “Jika sudah mapan, tidak masalah disandingkan dengan batik-batik yang lain,” ungkapnya.
 Disinggung mengenai tersedianya bahan, Iin mengaku masih sulit mencari di Semarang. Sehingga mau tidak mau harus membeli dari luar Semarang. Meski begitu, ia merasa tidak kekurangan.  “Sebenarnya sudah banyak yang ingin menyediakan di Semarang. Namun setelah melihat prospek yang kurang menjanjikan, sehingga mereka berpikir dua kali,” imbuh istri dari Eko Haryanto ini.
Terkait usaha pemerintah dalam memajukan Kampung Batik Rejomulyo ini, Iin mengaku sudah cukup membantu. Hanya saja, mereka tidak bisa bekerja sendiri. Tetapi harus ada kerja sama dari berbagai pihak. Di antaranya, masyarakat sendiri, kalangan akademisi, pemerhati batik, pengusaha tour wisata, serta stakeholder lainnya. “Pemerintah mempunyai program, yang lainnya memiliki loyalitas yang tinggi untuk mengembangkannya,” ungkapnya.
Siti Afifiah, pemilik usaha batik Figa Collection mengungkapkan, sejak diresmikan sebagai Kampung Batik pada 2006, perhatian pemerintah cukup bagus. Terbukti, dengan banyaknya pameran dan pelatihan yang diadakan untuk menunjang program tersebut.
“Selain membuat batik, saya juga mengadakan pelatihan sendiri buat anak-anak, siswa sekolah maupun mahasiswa. Selain itu, saya juga menyediakan alat-alat batik yang bisa dibeli oleh para pengunjung,” katanya.
Setiap ada pameran kerajinan, pameran batik maupun UKM, lanjut Ifah, pemerintah juga kerap mengajak perajin batik di kampung ini untuk mempromosikan produknya. Baik itu pameran di Kota Semarang, luar kota, luar pulau bahkan hingga ke luar negeri. Tidak heran, jika Ifah selalu mendapat pesanan baik dalam jumlah kecil maupun besar. “Omzetnya bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 10 juta perbulan,” ujar perempuan yang mengaku memiliki empat karyawan ini.  
Ifah menganggap tidak ada kendala yang berarti dalam menekuni usaha batik di Kampung Batik Rejomulyo. Hanya saja, satu hal yang ia inginkan adalah pemerintah lebih memperhatikan usaha-usaha kecil ketimbang yang besar. Sehingga pengusaha kecil punya kesempatan untuk mendapat hasil yang lebih besar. ”Itu saja, mungkin,” cetusnya.
Oktavia Ningrum, pengusaha batik Temawon mengaku, kendala selama ini adalah tentang parkir dan rob di kawasan Kampung Batik. Banyaknya pengunjung jika tidak diimbangi dengan area parkir yang luas akan menjadi masalah. “Hal itu yang selama ini dikeluhkan oleh para pengunjung ketika berkunjung ke sini, kesulitan mencari lahan parkir, apalagi yang pakai mobil dan bus,” keluhnya.
Selain itu, ketika terjadi banjir atau rob, kampung tersebut selalu tergenang. Sehingga segala aktivitas akan lumpuh. Karena itu, pihaknya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah untuk mencarikan solusi. “Mungkin itu harapan saya. Sebagai saran kepada pemerintah. Ya, biar Kampung Batik ini bisa lebih berkembang dan menjadi daerah tujuan wisata,” ungkapnya.
Tri Mudjiono, Ketua RW 02 Rejomulyo di mana Kampung Batik berada menjelaskan, perkembangan Kampung Batik saat ini lumayan meningkat. Terbukti, ketika ada even-even besar di Kota Semarang, kampung tersebut selalu ramai dikunjungi. “Dari jasa rental mobil, tour wisata, maupun tukang becak biasanya mengarahkan wisatawan datang ke sini,” akunya.
Demi memajukan Kampung Batik, Tri juga menjual aneka batik dari berbagai daerah. Tidak hanya batik Semarang, tetapi juga dari Pekalongan, Lasem Rembang, serta tenun Troso Jepara. Hal itu dilakukan untuk memberi pilihan kepada para pengunjung. “Sebab tidak semua menginginkan batik Semarang karena harganya yang mahal. Banyak dari mereka yang ingin bati yang murah buat oleh-oleh,” ungkapnya.
Tri menjelaskan, dari sekitar 10 pengusaha batik yang ada di wilayahnya, hanya 3-4 yang menjadi perajin batik. Selebihnya hanya sebagai penjual batik dari berbagai daerah dan tidak memproduksi sendiri.
“Kampung Batik yang dulu itu juga seperti ini. Banyak dari warga yang menjadi pedagang batik. Sehingga terkenal sampai ke mana saja. Diharapkan nantinya Kampung Batik sini kembali dikenal tidak hanya di kancah nasional tetapi internasional,” ungkap pria yang mengaku toko batiknya pernah dikunjungi oleh beberapa artis ibukota, seperti Bella Saphira, Ivan Gunawan, dan Senandung Nacita ini. (fai/aro)