GREGET Kampung Batik Semarang saat ini memang belum sehebat gaung sentra batik di kota lainnya. Seperti Pekalongan, Solo, Jogja, Lasem, dan Cirebon. Solo misalnya dengan Kampung Batik Laweyan yang begitu terkenal.
Menurut pakar batik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dewi Yuliati, minimnya perajin batik tulis khususnya di Kota Semarang, membuat gerak hasil kebudayaan yang sudah diakui oleh Unesco ini menjadi lebih sulit.
Dikatakan, dulu Semarang merupakan daerah pelabuhan dan salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia. Semarang sering disinggahi bangsa dan budaya luar, sehingga banyak akulturasi budaya terjadi. ”Dalam bidang batik, banyak yang mengira bahwa Semarang merupakan sentra batik di Jawa Tengah. Namun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan Semarang memiliki tradisi batik, apalagi memiliki motif dan pakem yang jelas,” kata dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Undip ini.
Hal itu, menurutnya, sangat dimungkinkan karena di wilayah tersebut jumlah produsen batik relatif kecil ketika meningkatnya pengusaha batik Indo-Eropa dan China peranakan. Hal itu begitu berbeda bila dibandingkan dengan wilayah Pekalongan.
Corak atau motif batik Semarang yang khas dengan menggambarkan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Semarang menjadi identitas tersendiri dari batik tersebut.
”Corak pesisir sangat dominan tergambar dalam batik Semarang, antara lain Samudra Naga, Kampung Laut Latar Ganggang, Bangau Semawis, Asem Tugu, Ngarak Warak, Neng Klenteng, dan Lawang Sewu, merupakan motif-motif khas Semarang,” bebernya.
Selain itu, kekuatan dalam batik Semarang yakni warnanya yang cenderung mencolok. “Hal tersebut mewakili bahwa Semarang adalah kawasan pesisir yang apa adanya, blak-blakkan,” ujar Dewi.
Corak yang seperti itu, menurut Dewi, harus dipertahankan agar dari masa ke masa juga berbeda. “Karena itu adalah ciri khas Kota Semarang,” tandasnya.
Ia mencontohkan, motif batik pada saat zaman Belanda dan sekarang berbeda. “Batik kan identitas. Indentitas masa,” katanya.
Dewi mengakui, kurangnya perhatian Pemkot Semarang dalam pengelolaan Kampung Batik Rejomulyo membuat kampung tersebut namanya kian tenggelam. “Saya menilai perhatian pemerintah masih setengah-setengah. Sehingga kampung tersebut kian lama kian tergusur,” ujarnya.
Minimnya fasilitas yang seharusnya ada di kampung batik, juga menjadi faktor sulit berkembangnya Kampung Batik Rejomulyo. “Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk membuang limbah batik saja belum ada. Bagaimana bisa disebut Kampung Batik,” katanya setengah bertanya.
Selain itu, kata dia, dalam segi pemasaran juga masih kurang. Hal itu membuat batik khas Semarang ini kurang dikenal jika dibandingkan dengan batik kota-kota lain yang benar-benar diperhatikan oleh pemerintah setempat. “Kurangnya promosi dan manajemen pemasaran juga berdampak meredupnya sentra batik di Rejomulyo,” ujar Dewi. (mg1/aro)