Perbanyak Even di Kampung Batik

178

DIAKUI atau tidak, Batik Semarang memang masih kalah tenar dengan batik-batik dari kota-kota di Jateng lainnya. Hal ini membuktikan jika keseriusan Pemkot Semarang dalam mengenalkan dan mengangkat batik Semarang masih belum teruji.
Angelina Josephine, Assisten Manager Marketing Comunication Crowne Plaza Hotel Semarang mengaku masih asing dengan batik Semarang yang terkenal dengan motif daun asem dan burung blekoknya. “Kalau batik Semarang memang sudah pernah dengar, tapi motif dan coraknya belum pernah tahu. Karena belum pernah melihatnya secara langsung,” kata perempuan 25 tahun ini.
Pihaknya berharap, Pemkot Semarang kembali mengekplorasi batik Semarang. Termasuk kerap menggelar even-even di Kampung Batik Semarang, sehingga akan semakin dikenal. “Saya rasa Kampung Batik Semarang  harus dikelola dengan baik, agar bisa menjadi tujuan wisata. Kita bisa mencontoh di Kampung Batik Lawean Solo,” ucapnya.
Hal senada diungkapkan Ocky Devarismha, Public Relations Coordinator Hotel Ciputra Semarang. Ia mengaku belum pernah mendengar Kampung Batik Semarang. Yang ia tahu justru Kampung Semarang sebagai tempat penjualan batik di kawasan Kaligawe. “Ya, kalau di Semarang, saya tahunya  kampung batik ya di Kaligawe, tapi seperti apa motif batik Semarang, saya kurang paham, karena memang kalah tenar dengan batik kota-kota lainnya,” katanya.
Intan Pramundhita, mahasiswi IAIN Walisongo juga mengaku belum begitu mengenal batik Semarang. Untuk mengangkat batik Semarang, ia meminta pemkot kerap menggelar even untuk mengekplorasi batik Semarang.“ Bisa mencontoh batik Lasem ataupun Jogja yang sudah sangat terkenal. Di dua kota itu, kampung pembuatan batik dijadikan objek tujuan wisata,“ ujarnya.
Beda lagi dengan Melly Maulidha. Desainer muda asal Semarang ini mengaku sangat menyukai batik Semarang. Bahkan sudah 3 kali, Melly mengunjungi Kampung Batik Rejomulyo Semarang. “Kalau ke kampung batik Rejomulyo sudah 3 kali, tapi sayang tempatnya agak kumuh dan tidak representatif. Jujur saya lebih suka batik tradisonal,” tandasnya.
Untuk menjadikan kampung batik Semarang menjadi terkenal, ia meminta pemerintah serius menata sarana dan prasasana yang ada. “Harus dikembangkan lagi agar bisa menjadi tujuan wisata. Contohnya seperti di Solo dan Jogja di mana pengunjung bisa belajar membatik secara langsung. Kebersihan kampung batik di sana juga terjaga,” ujar gadis 20 tahun ini.
Namira Fanessa, Public Relation Executive Hotel Dafam Semarang mengakui, jika Kampung Batik Semarang masih kurang representatif jika dijadikan tujuan wisata. “Harusnya kota ini meniru Pekalongan yang kampung batiknya bersih dan nyaman. Di sana pengunjung juga bisa belajar membatik,” katanya.
Meski kalah terkenal dengan batik Pekalongan, sebagai pencinta batik, Namira mengaku memiliki koleksi batik Semarang. Menurutnya, corak khas pesisiran dengan warna yang cerah membuat batik Semarang berbeda dengan batik lainnya. “ Coraknya beda, warnanya lebih cerah. Motifnya pun unik dan beda dengan daerah lain. Saya lebih suka batik Semarang dengan corak daun dan kembang asam,” akunya. (den/aro)