Penipuan Lewat Telepon Marak

173

BARUSARI — Berhati-hati jika Anda mendapat telepon dan mengabarkan anak mengalami kecelakaan. Jangan sampai bernasib sial seperti yang dialami Joko Hariyanto, 48, warga Pedalangan, Banyumanik. Ia mengaku tertipu hingga uang senilai Rp 9,5 juta miliknya melayang. Modusnya, pelaku mengabarkan anak korban sakit dan membutuhkan biaya perawatan di RSUP dr Kariadi.

Aksi penipuan tersebut bermula ketika istri Joko mendapat telepon dari nomor tidak dikenal, Jumat (6/6) sekitar pukul 08.30 lalu. Dari ujung telepon, seorang lelaki mengaku bernama Dr Lilik dari RSUP dr Kariadi, Semarang. “Saya dikabari jika anak saya jatuh dari tangga sekolah dan sedang dirawat di rumah sakit. Menurut penelepon itu, butuh biaya peralatan Rp 9,5 juta yang harus segera ditransfer. Katanya lukanya sangat parah,” kata Joko saat melapor.

Panik, Joko lantas menuruti kemauan pelapor, termasuk mengirim uang. Bergegas, ia berangkat ke ATM BRI di Kagok Semarang. Ia mengirim uang Rp 9,5 juta sebagai biaya pengobatan anaknya yang dikabarkan jatuh dari tangga. “Saya kirim ke rekening BNI No 0333838206 atas nama Hasballah,” ujarnya.

Usai transfer, Joko dan keluarga berangkat ke RSUP dr Kariadi untuk menemui anaknya. Namun sampai di rumah sakit, tidak ada nama anaknya dirawat di rumah sakit milik pemerintah tersebut. Saat itulah, ia berinisiatif menelepon ke sekolah anaknya. “Ternyata pihak sekolah mengabarkan jika anak saya baik-baik saja, dan masih belajar di sekolah,” katanya.

Nasib apes juga dialami Hasri Alin Wuriyudani, 20, warga Bumiayu, Pati. Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini mengaku tertipu Rp 1 juta. Modus pelaku dengan menyaru sebagai pemilik kos dan meminta korban untuk membayar uang pembayaran kos.

Hasri mengaku, aksi penipuan bermula ketika ia hendak membayar kos di Jalan Margasatwa Sekaran, Gunungpati yang nunggak selama dua bulan, pada Senin, 2 Juni lalu. Sang pemilik kos, Rusdarti, memberitahu jika bisa membayar ke rekening BNI No 0031187527. “Saya memang sudah nunggak dua bulan. Makanya bayar langsung Rp 1 juta,” ujarnya saat melapor.

Belum sempat mengirim, ia mendapat SMS pembayaran kos lewat rekening Danamon No 003544794658 atas nama Herlina Wati. Dengan bergegas, Hasri berangkat ke ATM BNI Unnes Semarang untuk mentransfer. “Saya kirim uang kos dua bulan sekaligus. Soalnya tidak enak nunggak,” katanya.

Usai transfer, Hasri pulang ke kamar kosnya dan bersantai-santai. Tapi, ia kaget ketika mendapat SMS dari pemilik kos untuk membayar tunggakan uang kos. Penasaran, ia lantas bertanya ke pemilik kos, dan diberitahu kalau itu bukan nomor rekeningnya. “Pas saya telepon nomor yang SMS juga sudah tidak aktif. Padahal biasanya memang bayar lewat rekening,” ujarnya. (fth/aro)