Kembalikan Kejayaan Jamu

147

KALIGAWE — Jamu merupakan salah satu warisan budaya masa lampau yang masih tetap bertahan hingga saat ini. Meski tidak diketahui secara pasti kapan dimulai tradisi meracik dan meminum jamu, cara memelihara kesehatan dan merawat kecantikan dengan ramuan tradisional ini dipastikan telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu. Hal tersebut dikatakan Kepala Bagian Humas Museum Nyonya Meneer Semarang, Caecilia Novi, di sela kunjungan sejumlah bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke museum tersebut, Jumat (6/6) lalu.
Menurut Novi, kejayaan jamu yang dulu pernah mendapat tempat di hati masyarakat harus dibangkitkan lagi. ”Sekarang masyarakat banyak meninggalkan jamu, dan lebih suka mengonsumsi obat-obatan yang mengandung bahan kimia yang sebetulnya lebih berbahaya,” tutur Novi.
Dikatakan, dengan kepedulian para bidan menggunakan jamu dapat mengangkat kembali pamor jamu yang kini telah luntur digeser oleh obat-obatan kimia yang cenderung berbahaya bagi tubuh.
Novi mengatakan, para bidan tersebut sengaja diundang untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya jamu. ”Bidan sebagai ujung tombak diharapkan dapat menjadi penyalur ke ibu-ibu, ataupun mengenalkan tentang kebaikan jamu yang tanpa bahan kimia ini,” kata Novi.
Ia berharap melalui kegiatan tersebut, jamu dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas. ”Semoga kejayaan jamu dapat kembali. Karena manfaat jamu sangatlah besar untuk kesehatan tubuh,” ucap Novi.
Ketua IBI Jateng, Imbarwati, mengatakan, penekanannya dalam konteks ibu hamil tidak diperbolehkan minum jamu, karena ditakutkan air ketuban berwarna keruh. ”Jika air ketuban keruh bahaya untuk sang janin,” kata Imbarwati.
Menurut Imbarwati, jamu hanya diperuntukkan untuk ibu setelah melahirkan. ”Dalam konteks ini, fungsi jamu diharuskan untuk ibu setelah melahirkan,” ujarnya.
Ferdinandus Pranadi, dokter yang bertugas di Laboratorium Nyonya Meneer mengatakan, kekhawatiran masyarakat meminum jamu yang dianggap berbahaya, menurutnya, salah besar. ”Di negara-negara maju seperti China, dalam dunia medis sangat dianjurkan untuk mengonsumsi obat herbal, kalau di Indonesia dalam bentuk jamu itu,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki sedikitnya 30 ribu spesies tanaman. Sebanyak 7 ribu spesies di antaranya merupakan tanaman obat, dan lebih dari separo atau 4.500 spesies berasal dari Jawa. ”Dengan kekayaan itu, Indonesia perlu melestarikan tanaman obat dan obat-obatan tradisional atau jamu,” ujarnya. (mg1/aro/ce1)