KUDUS – Bisnis karaoke di Dukuh Pungkruk, Desa Mororejo, Kecamatan Mlonggo telah ada sejak 2007. Bisnis ini mulai menjamur sejak 2010, puluhan unit karaoke berdiri. Meski masih ilegal, masih belum banyak yang bergabung ke dalam Paguyuban Pengusaha Pungkruk (Papepung).
Basuki, bendahara Papepung mengemukakan mestinya paguyuban tidak serta merta membebaskan para karyawan di usaha karaoke dalam berpakaian. Bahkan pihaknya telah memberikan rambu-rambu kepada pengusaha karaoke untuk menaati peraturan yang telah disusun paguyuban.
”Pentingnya paguyuban ya memang begitu. Mengatur dan mengayomi. Terlebih karaoke masih ilegal hingga kini,” ujar Basuki.
Namun selama ini, kata Basuki, banyak para pengusaha yang melanggar aturan. Seperti misalnya membolehkan pemandu karaoke (PK) berpakaian minimalis. Mestinya boleh berpakaian seksi tapi jangan terlalu minimalis dan vulgar.
”PK-nya juga tidak boleh di bawah umur. Tapi para pengusaha taetap melanggar dengan alasan biar bisnisnya tetap laku,” ujarnya.
Menurutnya, para pengelola usaha karaoke juga tidak menaati aturan paguyuban dalam kedisiplinan waktu. Semestinya, karaoke harus sudah tutup pada pukul 00.00 hingga pukul 01.00. Justru banyak yang masih buka hingga pukul 02.00 dini hari.
”Kami selaku pengurus paguyuban sering mendapat teguran dari warga. Pengusaha karaoke harus juga sadar dengan norma sosial yang ada,” kata dia.
Di samping itu, dari sekian puluh karaoke di Pungkruk hanya beberapa yang bergabung di paguyuban. Diungkapkan Basuki, dengan bergabung dengan paguyuban jika terjadi suatu masalah dapat dipecahkan melalui paguyuban. (him/zen/jpnn/ric)