Harus Segera Diumpankan, agar Tidak Terbakar

102

Sambut Kemeriahan Piala Dunia dan Ramadan dengan Sepak Bola Api

Ingar-bingar Piala Dunia 2014 yang digelar di Negeri Samba Brazil, turut dirasakan masyarakat Kota Semarang. Bahkan kalangan Pondok Pesantren Darun Najah, Kelurahan Jrakah, Kecamatan Tugu, Semarang, tak mau ketinggalan. Seperti apa riuhnya?

ADENNYAR WYCAKSONO

DETIK-detik menanti gol dari kepiawaian kaki para pemain sepak bola saja, sudah membuat tegang para penikmat sepak bola. Apalagi kalau bola bundar tersebut disertai dengan api membara, sungguh sangat tidak biasa. Tapi hal ini dilakukan penuh semangat oleh para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darun Najah, Kelurahan Jrakah, Kecamatan Tugu, Semarang, di Lapangan Jrakah, Sabtu malam (7/6) kemarin.
Prinsipnya, bermain sepak bola api, tidak jauh berbeda dengan sepak bola pada umumnya. Namun bola yang digunakan, bukanlah bola biasa. Bola yang digunakan adalah serabut buah kelapa yang direndam minyak tanah selama satu minggu, agar minyak tanah bisa meresap ke dalam serabut kelapa dan bisa bertahan lama. Pada saat akan dimainkan, bolanya dibakar dan dimainkan ketika menyala.
Asykar Farodis, 23, salah satu peserta sepak bola api mengaku senang lantaran bisa berpartisipasi dalam olahraga sepak bola api. ”Senang karena bisa ikut berpartisipasi, apalagi bisa mencetak gol dengan bola api,” ungkapnya senang.
Kata Asykar, teknik permainannya memang berbeda dengan sepak bola biasa. Sepak bola api tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, keberanian, kecerdikan, tapi juga kepiawaian serta ketangkasan dalam memainkan bola. Bahkan, di banyak tempat ada bekal ketangguhan psikis dan kekuatan spiritual.
”Sepak bola api tidak boleh digiring lama-lama, harus segera diumpankan kepada pihak lain. Dengan begitu, kaki yang tanpa sepatu, tidak akan terkena panas api,” timpal Shoim.
Kata Shoim, sepak bola api ini bisa memotivasi para santri bahwa sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, bisa dilakukan. Dengan motivasi dan tekad seseorang, sepak bola api bisa dilakukan tanpa magic. ”Biasanya para pemain sepak bola api menggunakan ilmu-ilmu magic, namun untuk santri Darun Najah tidak pakai ilmu magic,” imbuhnya.
Pengasuh Ponpes Darun Najah, M. Thoriqul Huda atau kerap dipanggil Gus Thoriq mengatakan, turnamen sepak bola api ini digelar setiap tahun. Khusus tahun ini, sepak bola api digelar untuk meramaian ulang tahun pondok ke-49 dan menyambut Piala Dunia 2014 di Brazil.
”Turnamen ini digelar setiap tahun menjelang ulang tahun pondok. Di tahun ini kami barengkan dengan menyambut semakin dekatnya Piala Dunia. Di tahun sebelumnya juga kami adakan pas menyambut Piala Eropa,” katanya.
Walaupun tampak sudah terbiasa, kepada para pemain Gus Thoriq tetap berpesan agar berhati-hati saat melakukan pertandingan sepak bola api. ”Para peserta harus menaati peraturan, dan harus tetap berhati-hati,” pesannya. (den/ida/ce1)